Loading...

BlogUpp!

Feryzal Dolu Magindali ( KPA RECHINS). Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Keindahan Nirwana di Kawasan Teluk Palu

Kawasan Teluk Palu  berada di Palu Timur sekitar 2 km dari pusat Kota Palu.Keindahan benar-benar membuai setiap wisatawan yang mendatanginya. Tak salah jika kawsan ini menjadi salah satu objek wisata primadona di Palu.

Keindahan Teluk Palu sungguh masih perawan, sayang ketenarannya sepertinya masih malu-malu diungkapkan oleh warga Palu.Padahal untuk mencapai lokasi Teluk Palu tidak terlalu sulit. Apalagi sudah ada jalan penghubung dan sebuah jembatan Palu 4 yang dibangun tepat di hadapan Teluk Palu pada Mei 2006 yang menghubungkan Kecamatan Palu Timur dan Palu Barat, dan diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Jembatan ini pun menjadi aset wisata tersendiri dan bisa menjadi kebanggaan warga Kota Palu mengingat jembatan lengkung pertama di Indonesia, dan ketiga di dunia setelah Jepang dan Prancis.

Keberadaan Jembatan Palu 4 menambah indahnya pemandangan Teluk Palu pada malam hari. Apalagi kalau sedang berada di atas jembatan dan melihat ke langit ketika ada pesawat melintasi Teluk Palu, suasananya begitu menyenangkan. Belum lagi dari atas jembatan terlihat jelas gambaran teluk yang ditandai dengan sinar-sinar lampu penerang. Lampu-lampu perahu nelayan bergerak-gerak di tengah teluk karena diempas gelombang terlihat begitu indah.

Seiring dengan tetap tegaknya Jembatan Palu 4, pembangunan di kawasan sekitar teluk mulai meningkat. Hal itu ditandai dengan berdirinya hotel-hotel, tempat hiburan, dan restoran yang tiap malam tak henti-hentinya dipadati pengunjung.

Pemerintah Kota Palu pun mencoba mempertahankan keberadaan nelayan tradisional dengan memberikan ruang bagi pedagang ikan sepanjang seratus meter di kawasan itu. Keberadaan nelayan tradisional itu meramaikan suasana malam, pagi, dan siang harinya. Ini pun kemudian menjadi salah satu pilihan objek wisata di kawasan Teluk Palu.

Pantai Talise
Selain bisa menikmati kehidupan nelayan, Anda bersama keluarga bisa berenang di Pantai Talise. Pantai itu berada di ujung Teluk Palu. Pantai itu membentang dari Kota Palu hingga Kabupaten Donggala. Karena letaknya berada di kota, pantai ini ramai dikunjungi warga Palu, terutama pada malam hari. Pantai Talise menjadi tempat wisata malam. Warga dapat menikmati keindahan Teluk Palu yang berbatasan dengan Selat Makassar itu.

Kota Palu memang sangat indah. Tidak mengherankan bila kota ini dikenal dengan julukan Kota Tiga Dimensi karena ada Teluk Palu yang indah, dikelilingi pegunungan, dan dilengkapi dengan sebuah sungai panjang yang membelah kota. Sungai ini adalah muara dari Danau Lindu di Taman Nasional Lore Lindu. Untuk lebih mempercantik kawasan wisata Teluk Palu, Pemerintah Kota Palu memberikan paluang bagi investor untuk menanamkan modalnya bagi pengembangan kawasan itu. Hal itu dikatakan Kepala Dinas Pariwisata Kota Palu Sudaryano Lamangkona.

Ia mengatakan pihaknya memberikan ruang bagi investor lokal dan asing untuk berinvestasi. Investasi di kota ini sangat menguntungkan mengingat Kota Palu berpenduduk 268.322 jiwa dan kawasan Teluk Palu merupakan ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah dengan luasan 395,06 km2 atau 39.506 hektare yang terdiri empat kecamatan dan 43 kelurahan.

Dia mengakui saat ini masih banyak potensi alam di sekitar Kota Palu belum dikelola dengan maksimal, terutama pada sektor pariwisata. Dia berharap berkembangnya potensi wisata di Kota Palu akan memberikan dampak positif kepada perekonomian warga Palu dan sekitarnya. Apalagi akomodasi dan transportasi sudah tersedia di Kota Palu, pembangunan dan tingkat hunian hotel-hotel terus tumbuh.Jumlah kunjungan wisatawan diperkirakan akan terus meningkat mengingat dalam waktu dekat ini maskapai Garuda Airlines akan membuka rute penerbangan ke Palu.
Keindahan Nirwana di Kawasan Teluk Palu
 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

SMS Ucapan Tahun Baru 2013

Tahun baru saja berganti
2013 mulai ditapaki
ngirim sms sana sini
walo aye belon mandi hihihihi

Jalan jalan ke pasar baru
Awas awas jangan kesasar
2013 tahun baru
Moga mawas diri dan sukses besar

Ngebakso enaknya di Bulungan
Sambil nongkrong ame si Memes
Malam tahun baru dilewatkan jangan
Sambil ngobrol dan ngirim sms

Jalan jalan ke kota Paris
Liat gedung berbaris baris
Tahun baruan abang cukur kumis
Demi cinta ke adik manis

Kota Toulouse kota yang indah
megah ceria berbata merah
Dengan tulus dan dari hati
kuucap met tahun baru, moga diberkati

Yesterday is memory.
Today is a gift.
TOmmorow is a Hope.
Lets begin New Year 2011 with faith, love and peace.
GBU

FAITH makes all things possible,
HOPE makes all things work,
LOVE makes all things beautiful.
May you have all three in this New Year 2013

No regret about the past
No fear about the future
New hopes & dreams in 2013
Thankful to God for His blessings in 2011.
Happy New Year !!

Happy New Year 2013. May this new year bring us a new
spirit to reach all our dreams, good health and a happiness
forever

Happy New Year 2013, a new beginning for a better life.
GBU ABUNDANTLY!

Open HEARTS receive LOVE
open MINDS receive WISDOM
open HANDS receive GIFTS
and..
SPECIAL FRIENDS receive my greeting Happy New Year !!

Tahun ini kan berlalu,
Laksana anak panah terlepas dari busurnya.
Fajar baru di tahun yang akan datang,
Semoga menjadi lembaran baru yang lebih baik.
Selamat tahun baru 2013
Semoga lebih maju dan sukses. Amin..

Serpihan malam bulan separuh,
Jelang hari baru pertanda tiba.
Kembang api membuncah ke angkasa sambut tahun muda 2013.
Selamat tahun baru 2013
Semoga lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Amin..

Waktu terus berlalu,
Lembaran demi lembaran telah dilalui.
Coretan demi coretan telah memenuhi,
Kadang tak berarti, kadang tanpa makna,
atau hanya sedikit makna.
Semoga di tahun ini,
Setiap lembaran memiliki makna.
Setiap lembaran bermanfaat.
Selamat tahun baru 2013.
Semoga lebih sukses..

Tahun ini hampir usai terlalui,
Belumlah tergores coretan berarti,
Belumlah setiap gagasan menjadi nyata,
Konsep masih terdokumenkan.
Padahal telah berada dipenghujung,
Meski akan terlewati,
Semoga ada perubahan dalam lembaran baru.
Selamat tahun baru 2013.

Matahari menyelinap dibalik bukit.
Sembunyikan kenangan hidup, menyimpan lembaran usang.
Menyambut hari-hari muda, sebentar lagi kan menjelang.
Selamat datang tahun baru 2013.
Harapan baru dan perubahan baru.

Masa lalu adalah sejarah,
hari ini adalah goresan,
hari esok adalah harapan.
Selamat datang tahun baru 2013.
Seiring dengan perginya kenangan, menyambut harapan.
Selamat tinggal kenangan,
selamat datang harapan..

Malam ini kan berlalu,
minggu ini kan beranjak,
bulan ini akan pergi,
tahun ini kan meninggalkan sejarah kehidupan, catatan suka dan duka,
menyongsong tahun baru.
Selamat tahun baru 2013.
Semoga selalu jaya dan sejahtera.

Senja indah,
kirimkan ciprat keemasan,
kirimkan pertanda keagungan, kekusaan, serta kemegahan.
Meski itu hanya sekejap, hingga sirna ditepis malam,
pertanda esok akan tiba.
Selamat tahun baru 2013.
Semoga sukses selalu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kabupaten Kota Palu

Nama Resmi :Kota Palu
Ibukota :Palu
Provinsi :Sulawesi Tengah
Batas Wilayah:Utara: Berbatasan dengan Kecamatan Tawaeli dan Kecamatan Banawa Kab. Donggala dan Teluk PaluSelatan: Berbatasan dengan Kecamatan Sigi Biromaru dan Kecamatan Dolo Kab. Donggala.Barat: Berbatasan dengan Kecamatan Banawa dan Kecamatan Marawola Kab. Donggala.
Timur: Berbatasan dengan Kecamatan Parigi Kabupaten Parimo.
Luas Wilayah:
395,06 Km2
Jumlah Penduduk: 
339.132 Jiwa
Wilayah Administrasi:Kecamatan: 4, Kelurahan: 43
Website:http://www.palukota.go.id

(Permendagri No.66 Tahun 2011)

Sejarah

Sejarah Kota Palu | Sulwesi Tengah ~ Palu adalah “Kota Baru” yang letaknya di muara sungai. Dr. Kruyt menguraikan bahwa Palu sebenarnya tempat baru dihuni orang (De Aste Toradja’s van Midden Celebes). Awal mula pembentukan kota Palu berasal dari penduduk Desa Bontolevo di Pegunungan Ulayo. Setelah pergeseran penduduk ke dataran rendah, akhirnya mereka sampai di Boya Pogego sekarang ini
Kota Palu sekarang ini adalah bermula dari kesatuan empat kampung, yaitu : Besusu, Tanggabanggo (Siranindi) sekarang bernama Kamonji, Panggovia sekarang bernama Lere, Boyantongo sekarang bernama Kelurahan Baru. Mereka membentuk satu Dewan Adat disebut Patanggota. Salah satu tugasnya adalah memilih raja dan para pembantunya yang erat hubungannya dengan kegiatan kerajaan. Kerajaan Palu lama-kelamaan menjadi salah satu kerajaan yang dikenal dan sangat berpengaruh. Itulah sebabnya Belanda mengadakan pendekatan terhadap Kerajaan Palu. Belanda pertama kali berkunjung ke Palu pada masa kepemimpinan Raja Maili (Mangge Risa) untuk mendapatkan perlindungan dari Manado di tahun 1868. Pada tahun 1888, Gubernur Belanda untuk Sulawesi bersama dengan bala tentara dan beberapa kapal tiba di Kerajaan Palu, mereka pun menyerang Kayumalue. Setelah peristiwa perang Kayumalue, Raja Maili terbunuh oleh pihak Belanda dan jenazahnya dibawa ke Palu. Setelah itu ia digantikan oleh Raja Jodjokodi, pada tanggal 1 Mei 1888 Raja Jodjokodi menandatangani perjanjian pendek kepada Pemerintah Hindia Belanda.
Berikut daftar susunan raja-raja Palu :
1. Pue Nggari (Siralangi) 1796 - 1805
2. I Dato Labungulili 1805 - 1815
3. Malasigi Bulupalo 1815 - 1826
4. Daelangi 1826 - 1835
5. Yololembah 1835 - 1850
6. Lamakaraka 1850 - 1868
7. Maili (Mangge Risa) 1868 - 1888
8. Jodjokodi 1888 - 1906
9. Parampasi 1906 - 1921
10. Djanggola 1921 - 1949
11. Tjatjo Idjazah 1949 – 1960
Setelah Tjatjo Idjazah, tidak ada lagi pemerintahan raja-raja di wilayah Palu. Setelah masa kerajaan telah ditaklukan oleh pemerintah Belanda, dibuatlah satu bentuk perjanjian “Lange Kontruct” (perjanjian panjang) yang akhirnya dirubah menjadi “Karte Vorklaring” (perjanjian pendek). Hingga akhirnya Gubernur Indonesia menetapkan daerah administratif berdasarkan Nomor 21 Tanggal 25 Februari 1940. Kota Palu termasuk dalam Afdeling Donggala yang kemudian dibagi lagi lebih kecil menjadi Arder Afdeling, antara lain Order Palu dengan ibu kotanya Palu, meliputi tiga wilayah pemerintahan Swapraja, yaitu :
1. Swapraja Palu
2. Swapraja Dolo
3. Swapraja Kulawi
Pertumbuhan Kota Palu setelah Indonesia merebut kemerdekaan dari tangan penjajah Belanda kemudian Jepang pada tahun 1945 semakin lama semakin meningkat. Dimana hasrat masyarakat untuk lebih maju dari masa penjajahan dengan tekat membangun masing-masing daerahnya. Berkat usaha makin tersusun roda pemerintahannya dari pusat sampai ke daerah-daerah. Maka terbentuklah daerah Swatantra tingkat II Donggala sesuai peraturan pemerintah Nomor 23 Tahun 1952 yang selanjutnya melahirkan Kota Administratif Palu yang berbentuk dengan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1978.
Berangsur-angsur susunan ketatanegaraan RI diperbaiki oleh pemerintah pusat disesuaikannya dengan keinginan rakyat di daerah-daerah melalui pemecehan dan penggabungan untuk pengembangan daerah, kemudian dihapuslah pemerintahan Swapraja dengan keluarnya peraturan yang antara lain adalah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957 dan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 serta Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1964 Tentang Terbentuknya Dati I Propinsi Sulteng dengan Ibukota Palu.
Dasar hukum pembentukan wilayah Kota Administratif Palu yang dibentuk tanggal 27 September 1978 atas Dasar Asas Dekontrasi sesuai Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 Tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah. Kota Palu sebagai Ibukota Propinsi Dati I Sulawesi Tengah sekaligus ibukota Kabupaten Dati II Donggala dan juga sebagai ibukota pemerintahan wilayah Kota Administratif Palu. Palu merupakan kota kesepuluh yang ditetapkan pemerintah menjadi kota administratif.
Sebagai latar belakang pertumbuhan Kota Palu dalam perkembangannya tidak dapat dilepaskan dari hasrat keinginan rakyat di daerah ini dalam pencetusan pembentukan Pemerintahan wilayah kota untuk Kota Palu dimulai sejak adanya Keputusan DPRD Tingkat I Sulteng di Poso Tahun 1964. Atas dasar keputusan tersebut maka diambil langkah-langkah positif oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah dan Pemerintah Dati II Donggala guna mempersiapkan segala sesuatu yang ada kaitannya dengan kemungkinan Kota Palu sebagai Kota Administratif. Usaha ini diperkuat dengan SK Gubernur KDH Tingkat I Sulteng Nomor 225/Ditpem/1974 dengan membentuk Panitia Peneliti kemungkinan Kota Palu dijadikan Kota Administratif, maka pemerintah pusat telah berkenan menyetujui Kota Palu dijadikan Kota Administratif dengan dua kecamatan yaitu Palu Barat dan Palu Timur.
Berdasarkan landasan hukum tersebut maka pemerintah Kotif Palu memulai kegiatan menyelenggarakan pemerintahan di wilayah berdasarkan fungsi sebagai berikut :
a. Meningkatkan dan menyesuaikan penyelenggaraan pemerintah dengan perkembangan kehidupan politik dan budaya perkotaan.
b. Membina dan mengarahkan pembangunan sesuai dengan perkembangan sosial ekonomi dan fisik perkotaan.
c. Mendukung dan merangsang secara timbal balik pembangunan wilayah Propinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah pada umumnya dan Kabupaten Dati II Donggala.
Hal ini berarti pemerintah wilayah Kotif Palu menyelenggarakan fungsi-fungsi yang meliputi bidang-bidang :
1. Pemerintah
2. Pembina kehidupan politik, ekonomi, sosial budaya perkotaan
3. Pengarahan pembangunan ekonomi, sosial dan fisik perkotaan
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tanggal 12 Oktober 1994, Mendagri Yogi S. Memet meresmikannya Kotamadya Palu dan melantik Rully Lamadjido, SH sebagai walikotanya. Kota Palu terletak memanjang dari timur ke barat disebelah utara garis katulistiwa dalam koordinat 0,35 – 1,20 LU dan 120 – 122,90 BT. Luas wilayahnya 395,06 km2 dan terletak di Teluk Palu dengan dikelilingi pegnungan. Kota Palu terletak pada ketinggian 0 – 2500 m dari permukaan laut dengan keadaan topografis datar hingga pegunungan. Sedangkan dataran rendah umumnya tersebut disekitar pantai.

Arti Logo


BINTANG BERSUDUT LIMA BERWARNA KUNING KEEMASAN Melambangkan rakyat Kota Palu menjunjung tinggi dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung pada Pancasila

UNTAIAN PADI 27 BUTIR DAN RANGKAIAN BUNGA KAPAS 9 BUAH Melambangkan tanggal dan bulan lahirnya Kota Palu.

RUMAH ADAT SOU RAJA BERWARNA COKLAT MEMPUNYAI 12 TIANG DAN 10 ANAK TANGGA Menggambarkan tanggal dan bulan peresmian Kotamadya Daerah Tingkat II Palu dan sebagai tempat tinggal raja serta tempat bermusyawarah bagi wakil rakyat.

ALUR 2 GARIS LENGKUNG BERWARNA PUTIH Menggambarkan Kota Palu terdapat beberapa sungai,lembah serta letak geografis Kota Palu yang diapit 2 buah pegunungan.

GARIS OMBAK BERWARNA BIRU MUDA TERDIRI DARI 7 DAN 8 GELOMBANG Menggambarkan tahun kelahiran Kota Palu

GARIS VERTIKAL BERWARNA HIJAU MUDA 5 BUAH DI BAWAH PITA BERWARNA PUTIH BERTULISKAN “MALIU NTINUVU" Mengartikan Kota Palu merupakan Daerah Tingkat II yang ke 5 di Sulteng.

GARIS LURUS VERTIKAL BERWARNA HITAM Menggambarkan tekad yang kuat,kokoh dan tegar dalam melaksanakan pembangunan.

PITA BERWARNA PTUIH TERLETAK PADA TANGKAI PADI DAN KAPAS BERTULISKAN “MALIU NTINUVU" Bermakna mempersatukan semua unsur/potensi yang ada.

ARTI LAMBANG
1. GAMBAR BERBENTUK BUAH KELAPA DAN BELANGA Melambangkan kekayaan daerah, Sikap terbuka masyarakat Kota Palu, mempersatukan semua unsur, serta berfalsafah Pancasila.
2. GARIS LURUS VERTIKAL PEMISAH WARNA HIJAU DAN KUNING Melambangkan Kota Palu selalu membina rasa persatuan dan kesatuan
3. BAGIAN PINGGIR GAMBAR BERWARNA HITAM Melambangkan usaha melestarikan dan memelihara kebudayaan daerah

Nilai Budaya

Penduduk asli di Palu adalah suku Kaili. Suku lainnya yang bisa dijumpai di Palu adalah Bugis, Makassar, Jawa, Toraja, dan sebagainya. Suku India, China dan Arab juga bisa dijumpai di kota yang indah ini.
Ciri khas orang Palu adalah sederhana, partisipatif, ramah dan suka menolong. Mereka juga suka tinggal secara berkelompok. Pakaian tradisional suku Kaili sangat bercorak yang menandakan bahwa mereka adalah orang yang sangat atraktif.
Pusat kegiatan bisnis ada di Palu sebagai ibukota propinsi. Itulah sebabnya mengapa penduduk di kota Palu lebih beragam dibandingkan daerah lain di Sulawesi Tengah. Namun, sebagian penduduk asli masih bermukim di daerah pegunungan. Mereka disebut orang "TOLARE". Para masyarakat unik ini masih menjaga cara hidup tradisional mereka. Penduduk di Palu memiliki satu filosofi hidup yang selalu mereka jaga dalam menjalankan kegiatan sehari-hari. Filosofi itu adalah NOSARARA NOSABATUTU yang berarti Bersama Kita Satu. Itulah gambaran kebersamaan untuk mencapai tujuan keberhasilan

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MAKAM LELUHUR SUKU ASLI POSO


makam leluhur suku asli poso di antara bebatuan gua

jika anda mengunjungi kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, mampirlah ke gua latea di tentena.salah satu pilihan untuk melepaskan kepenatan sembari menelusuri masa lalu dengan pemandangan alam yang indah.

suku Pamona, suku asli Poso mempunyai kebiasaan unik saat menguburkan keluarganya yang meninggal dunia jenazah diletakan di dalam peti kayu yang kemudian disimpan di dalam gua.

sisa-sisa tradisi suku pamona ini masih bisa kita saksikan di gua –gua pamona salah satunya adalah Gua Latea, tentena sekitar 57 kilometer arah barat daya kota Poso.


Gua Latea adalah gua alam berupa bukit kapur yang usia genesisnya ditaksir tidak kurang dari 30 juta tahun silam. gua ini digunakan sebagai kuburan suku pamona leluhur orang pamona yang juga biasanya disebut orang Poso itu dulunya hidup di bukit-bukit, khususnya yang hidup di perbukitan Wawolembo.

sistem penguburan dengan menaruh jenazah di gua-gua itu baru berakhir sekitar abad ke-19 masehi, setelah para penginjil dari belanda menyebarkan agama kristen di wilayah ini. gua ini pernah mengalami keruntuhan batuan sekitar lebih 2000 tahun silam.

gua latea terdiri dari dua kamar utama kamar pertama terletak di kaki bukit di mana terdapat empat pasang peti jenazah dan 36 tengkorak manusia beserta rangkanya.
kamar kedua, terletak di atas bukit berisi di mana terdapat 17 pasang peti jenazah 47 buah tengkorak dan lima buah gelang tangan.

gua ini adalah kuburan leluhur suku pamona. cara penguburan zaman dulu masyarakat pamona ini sama seperti yang dilakukan di tanah toraja, sulawesi selatan. berdasarkan historisnya orang Pamona dan orang Toraja masih memiliki hubungan kekerabatan yang sangat erat.

tidak hanya di gua latea, kuburan nenek moyang orang pamona lainnya terdapat di gua pamona yang letaknya persis di tepi danau Poso, Tangkaboba nama gua itu, gua ini memiliki 12 ruang.

mengunjungi gua-gua kuburan leluhur suku asli Poso membuat pikiran lepas dari kepenatan rutinitas kerja sehari-hari.apalagi sejauh mata memandang, kita dikelilingi danau poso yang bening dan hawa udara dingin tentena nan segar.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Wisata Poso

Beaches, favourite place for Sunday family leisure...
Beaches, favourite place for Sunday family leisure...
Kawasan Poso dan sekitarnya dikaruniai keindahan alam yang luar biasa. Alam tropis dengan matahari cerah sepanjang hari merupakan anugerah yang tentu tidak selamanya dinikmati negara-negara empat musim seperti Asia Utara, Eropa, Australia, dan Amerika. Dipadu dengan keindahan pantai dan pulau-pulau serta taman laut yang indah, serta keunikan adat-istiadat masyarakat lokal yang unik, tentulah merupakan daya tarik wisata yang tidak akan ditemui di tempat lain. Adapun ikon utama pariwisata Poso dan sekitarnya adalah:
  1. Berbicara tentang taman laut, Kepulauan Togean yang terletak di sebelah Utara kota Poso merupakan surga bagi penggemar olahraga menyelam (diving) ataupun snorkeling. Taman laut Togean berisi ribuan jenis ikan dan coral yang terlindung aman dibalik air laut yang jernih dan tenang. Penggemar olahraga laut maupun mereka yang sekedar ingin menikmati ketenangan alam dapat memilih Togean islands sebagai tujuan wisata.
  2. Danau Poso yang terletak di daerah Tentena merupakan salah satu danau terdalam dan terindah di Indonesia. Bentangan danau seluas kurang lebih 32.000 ha dengan kedalaman sampai 510m ini menawarkan keindahan alam yang menantang untuk dinikmati dan ditelusuri. Pinggirannya berpasir putih keemasan dan airnya yang jernih berombak seperti laut. Selain mengundang wisatawan, danau Poso juga menarik minat para ilmuwan untuk melakukan penelitian. Karakteristik air danau juga mengundang investor yang kini mengembangkan ikan jenis-jenis tertentu untuk pasaran ekspor. Danau Poso masih menyisakan banyak peluang dan tantangan dieksplorasi untuk pengembangan lebih lanjut.
  3. Festival Danau Poso merupakan pekan budaya rakyat Poso yang diadakan setiap tahun di kawasan danau Poso. Keunikan budaya yang dipadu dengan keindahan alami danau Poso menarik wisatawan domestik maupun mancanegara untuk menikmati festival ini setiap tahun.
  4. Pulau Kelelawar terletak di kecamatan Ampibabo, sekitar 97 kilometer dari kota Palu dan dapat dicapai dengan semua jenis kendaraan. Keindahan alam di Pulau Kelelawar sangat menawan, terutama bagi mereka yang menyukai hobby diving, snorkeling atau sekedar mandi matahari.
  5. Air Terjun Saluopa, merupakan air terjun bersusun 12 tingkat yang dikelilingi hutan tropis yang menawan. Air terjun ini terletak di terletak di sebelah barat kota Tentena, Poso. Wisatawan dapat naik ke tingkat yang tertinggi melalui bebatuan di bawah derasnya air. Pemandangan sekitarnya membawa keteduhan alami.
  6. Gua Pamona dan Latea merupakan penanda tradisi Toraja yang hadir di kawasan ini sejak lama. Dalam gua ini dapat ditemukan tengkorak dan tulang-tulang mayat persis yang dapat dilihat di gua-gua alam pemakaman Tana Toraja. Gua ini terletak di daerah Tentena.
  7. Populasi burung Maleo (maccrocephalon maleo) merupakan salah satu keunikan fauna yang hanya dapat ditemui di Sulawesi Tengah, Utara dan Tenggara. Untuk Sulawesi Tengah, burung ini dapat ditemui di daerah Sausu, Kab. Parigi Moutong dan beberapa tempat di Kab. Tojo Una-una.
  8. Pantai Nalera menawarkan pesona pantai tenang berpasir putih sepanjang 5km. Pantai ini terletak di desa Marantale, Parigi sekitar 64 kilometer dari kota Palu. Biasanya setiap akhir pekan, pantai ini ramai dikunjungi warga sekitar ataupun dari luar kota untuk berwisata bahari.
  9. Cagar Alam Morowali berada di wilayah Kabupaten Morowali. Dari pelabuhan Kolonedale, perjalanan ke Cagar Alam Morowali dilakukan dengan motor laut selama kurang lebih 1 jam. Cagar Alam Morowali merupakan hunian bagi berbagai satwa dan flora ekosistem asli Sulawesi. Dengan luas sekitar 225.000ha, Cagar Alam Morowali menawarkan keindahan pesona alam yang lengkap mulai dari pantai, hutan mangrove, hutan alluvial dataran rendah, hutan rawa, hutan pegunungan dan hutan lumut pada ketinggian 2.600 meter di atas permukaan laut, dengan 3 sungai utama. Kawasan ini dihuni suku tradisional Wana.
  10. Taman Laut Teluk Tomori adalah keindahan lain yang ditawarkan kawasan Morowali. Teluk yang tepat berada di depan Kolonedale ini dihuni oleh pulau-pulau kecil yang eksotis dengan keindahan alaminya. Sebut saja pulau Rumbia, Pengia dll serta gua-gua alam yang tak kalah menarik. Kehidupan dan aktivitas nelayan di kawasan ini juga menjadi attraksi tersendiri yang menarik perhatian wisatawan.
Masih banyak eksotisme wisata alam Poso dan sekitarnya siap memanjakan siapapun yang datang menyapa kawasan ini. Pesona alamnya lengkap, mulai dari pesona pantai dan kepulauan sampai ke pesona keindahan pegunungan. Wisatawan yang menyukai perjalanan alam (trekking) akan mendapatkan pengalaman yang tak akan terlupakan.
Refreshing life in Togean Island
Refreshing life in Togean Island

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pegunungan Meratus


Pegunungan ini menjadi bagian dari 8 kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan yaitu: Hulu Sungai Tengah (HST), Hulu Sungai Utara (HSU), Hulu Sungai Selatan (HSS), Tabalong, Kotabaru, Tanah Laut, Banjar dan Tapin.

Pegunungan Meratus merupakan kawasan berhutan yang bisa dikelompokkan sebagai hutan pegunungan rendah. Kawasan ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dengan beberapa vegetasi dominan, antara lain: Meranti Putih (Shorea spp), Meranti Merah (Shorea spp), Agathis (Agathis spp), Kanari (Canarium dan Diculatum BI), Nyatoh (Palaquium spp), Medang (Litsea sp), Durian (Durio sp) Gerunggang (Crotoxylon arborescen BI), Kempas (Koompassia sp), Belatung (Quercus sp).

Kedudukan kawasan hutan yang menjadi hulu sebagian besar Daerah Aliran Sungai (DAS) menjadikan kawasan ini sangat penting bagi Provinsi Kalimantan Selatan sebagai kawasan resapan air. Di sisi lain kondisi kelerengan lahan yang cukup terjal dan jenis tanah yang peka erosi menjadikannya memiliki nilai kerentanan (fragility) yang tinggi. Dengan berbagai pertimbangan di atas dan juga fungsi kenyamanan lingkungan  (amenities) bagi masyarakat di bagian hilir, maka penutupan hutan merupakan satusatunya pilihan, sehingga kawasan hutan Pegunungan Meratus harus dipertahankan sebagai hutan lindung dan dijauhkan dari kerusakan.

Berdasarkan tipe penutupan lahan kawasan Pegunungan Meratus dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: Hutan
Dataran Tinggi (+ 11.345 ha), Hutan Pegunungan (+ 26.345 ha) dan Lahan Kering tidak Produktif (+ 8.310 ha). Sedangkan berdasarkan pengamatan okuler, sebagian besar tataguna lahan di sekitar hutan lindung Pegunungan Meratus adalah areal perladangan, hutan sekunder hingga semak belukar serta perkebunan rakyat.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Gunung Palung


Kawasan Gunung Palung dikukuhkan sebagai Taman Nasional pada tanggal 24 Maret 1990, dengan luas 90.000 HA. kawasan tersebut secara geografis terletak pada 1000' - 1020' LS  dan 1090 00' - 1100 24'BT, dan secara adminitrasi melingkupi Kecamatan Sukadana, Simpang Hilir dan Sungai Laur Kabupaten Ketapang, Kawasan Taman Nasional Gunung Palung, memiliki topografi yang sangat beragam. Mulai topografi landai terutama  di daerah pantai (O m dpl) sampai topografi yang curam mencapai ketinggian 1116 m dpl. Kondisi ini memungkinkan terdapatnya beranekaragaman jenis vegetasi, mulai dari vegetasi Hutan Pantai hingga vegetasi Hutan Pegunungan atas.
Taman Nasional Gunung Palunga termasuk dalam lingkup kerja Sub Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat.

Untuk Taman Nasional Gunung Palung dari  Ibukota Propinsi Kalimantan Barat dapat ditempuh dengan beberapa cara :
1. Melalui Ketapang
  • Dari  Pontianak - Ketapang dapat dtempuh dengan pesawat selama ± 1 jam atau dengan Kapal bermotor (Ekspress) selama 6 -7 jam.
  • Perjalanan dilanjutkan dari Ketapang ke Sukadana dengan bis penumpang atau kendaraan ojek selama 2 jam.
  • Kemudian dari Sukadana ke lokasi Taman Nasional dapat ditempuh dengan longboat (perahu panjang bermesin motor) pada musim penghujan atau mempergunakan sampan apabila musim kemarau.
2. Melalui Teluk Melano
  • Dari Pontianak - Teluk Melano dapat ditempuh dengan speedboat (± 4 jam)melewati Rasau Jaya atau dengan kapal bermotor selama 10 jam. Selanjutnya dari Teluk Melano dapat langsung menuju lokasi Taman Nasional Gunung Palung dengan speedboat atau sampan.

Potensi sumberdaya alam yang menjadikan kawasan ini menjadi daya tarik khusus adalah keberadaan tipe ekosistemnya yang lengkap. Mulai dari tipe vegetasi Hutan Pantai, Hutan Mangrove (Payau), Hutan Rawa Gambut, Hutan daratan rendah hingga vegetasi Hutan puncak Pegunungan. Pada masing-masing tipe ekosistem tersebut dihuni oleh beranekaragaman jenis satwa liar, diantaranya golongan Primata seperti : Orang Utan (Pongo pygmaeus), Klempiau (Hylobates moloch), Bekantan (Nasalis larvatus), Kelasi (Presbytis rubicunda) serta Kera ekor panjang (Mcaca fascicularis). Satwa ini sering dijumpai ditajuk-tajuk pohon.


Jenis-jenis satwa lain juga dapat dijumpai seperti Kukang (Nycticebous coucang), gerombolan kelelawar (Rhinolopusluctus sp), Kalong (Pteropus vampirus), Tupai Besar (Ratufa offinis), Bajing (Callosciurus nofatus), Beruang Madu (Helarctos malayanus), Kijang (Muntiacus muncak) Kancil (Tragulus napu). Dari Klas Reptil, ada Buaya (Crocodylus sp), Biawak (Varanus sp), Kura-kura (Tortoidae) serta Penyu (Careta careta).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Gunung Lumut


MENDENGAR ‘lumut’, pasti yang terlintas adalah sekelompok vegetasi kecil yang tumbuh pada tempat lembab atau perairan dan biasanya tumbuh meluas menutupi permukaan. Di perairan lumut dapat menutupi dasar atau dinding sungai atau danau.

Tapi berbeda lumut yang satu ini. Lumut ini berupa gunung yang memiliki pesona panorama alam dan kehidupan masyarakat lokal (tau Taa Wanba) yang masih sangat kental dalam menjalankan tradisi dan kearifan leluhur mereka , adalah Gunung Lumut atau dalam bahasa masyarakat setempat dinamai Tongku Barenge.

Meski memiliki Beragampotensi alam yang menakjubkan, kawasan gunung ini masih sangat jarang dieksplorasi para penggemar kegiatan petualangan khususnya pendaki gunung.

Salah satu faktor penyebab adalah minimnya informasi yang tersedia mengenai Gunung ini. Selain itu terbatasnya akses untuk lokasi pendakian yang ideal merupakan faktor penyebab lainnya.

Gunung ini secara administratif termasuk dalam wilayah Kabupaten Morowali, akan tetapi akses termudah untuk memulai titik start pendakian dari wilayah kabupaten Tojo Una-una.

Selain keindahan alam rimba belantara yang masih jarang tersentuh serta kekayaan aneka ragam satwa merupakan daya pikat yang dimiliki gunung lumut ditambah tantangan jalur pendakian yang belum pernah dibuka, merupakan tantangan yang sangat mengasyikan bagi para pengemar olahraga dan kegiatan pendakian gunung.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Lembah Napu

Lembah Napu merupakan suatu Iembah yang meliputi wilayah desa Sedoa, Wuasa, Wanga, Watutau. Lembah dengan udara yang sejuk ml merupakan wilayah penyangga dan Taman Nasional Lore Lindu pada wilayah kerja TNLL Bidang Pengelolaan Wilayah III Poso, dan secara administratif termasuk dalam Kecamatan Lore Utara. Lembah ini berjarak sekitar I 05 km dari Kota Palu.


Daya Tarik
Lembah Napu memiliki lahan basah yang luas, pegunungan yang benhutan pada semua sisinya dan lahan pertanian yang bagus. Di Wuasa, terdapat tempat pengamatan bunung yang baik, memiliki beberapa jalan setapak dan hutannya kaya akan epifit. Dan di tepian hutan yang berbatasan dengan padang rumput mempunyai banyak spesies burung seperti - Mandar muka biru, berbagai jenis elang, Peragam Putih, Kipasan Sulawesi

Di Wanga dan Watutau, beberapa masyarakat masih memegang teguh kebudayaan tradisional dalam kehidupannya, seperti penerapan cara-cara bertani tradisional, acara upacara perkawinan dan perayaan panen raya. 



Aksesbilitas

Perjalanan menuju Lembah Napu dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat atau angkutan umum selama 3 jam. Jalan naya sampai ke lokasi kondisinya cukup baik.

Kendaraan umum ke Wuasa dapat ditemukan di terminal Petobo - Palu.




Fasilitas

Penginapan dan rumah makan kecil dan jalan trekking masuk ke hutan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pantai Talise Palu

Pantai Talise merupakan obyek wisata bahari dengan memiliki panorama indah hamparan teluk dan pegunungan yang begitu mempesona. Selain itu, pantai ini sangat cocok untuk kegiatan olah raga, seperti: berenang, selancar angin (wind surfing), sky air, menyelam, memancing, dan lain sebagainya
Pantai Talise sebagai tempat tamasya adalah pilihan yang paling murah dan mudah karena selain tidak memerlukan biaya, lokasinya teramat mudah untuk dicapai yaitu ditengah kota dan akses jalan yang sudah teraspal .
Keberadaanya yang dekat dengan pusat kota menjadikan pantai ini banyak dikunjungi oleh pendatang maupun masyarakat Palu sendiri. Berkunjung di siang hari agak kurang cocok, karena cuaca di Palu umumnya terik dan angin bertiup sangat kencang saat jam 12 siang lewat.
Pemandangan indah di Pantai Talise saat matahari menjelang terbit. Pantai ini enak dikunjungi saat sore hari menjelang matahari terbenam dan saat sore sambil menikmati makanan kecil dan minuman berupa pisang goreng, pisang eppe, jagung, teh/kopi, sarabba.  Disore dan malam hari juga dijadikan tempat rekreasi keluarga dan kaum muda-mudi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Wisata Sulawesi Tengah
Sulawesi Tengah adalah salah satu Provinsi dengan ibu kotanya Palu
Obyek Wisata Sulawesi Tengah yang sangat populer yaitu wisata Laut Pulau Togean, selain Wisata Danau Posos.
Obyek Wisata Laut Pulau Togean Una-una dikenal karena keindahan Pantai , Karang dan Lautnya antara lain :
Kegiatan Memancing, berlayar, berenang dan menyelam,berjemur di pantai berpasir putih
Alam bawah laut yang memiliki berbagai karang tropis dalam ukuran besar serta berbagai spesies ikan hias dan kepiting kenari yang khas .
Sederetan pulau-pulau kecil dan besar yang berhutan lebat yang dihuni oleh satwa liar khas (babi hutan)
Pesisir pantai  dihuni suku Bajou yang membuat rumah diatas laut .
Memiliki tiga lingkungan karang yang berbeda yaitu karang atol, karang barier dan karang pantai yang semuanya menjadi habitat dari flora dan fauna laut.
Goa kelelawar dan Air terjun P Batu Dakka Desa Bombana
Snorkeling dan menyelam yang sangat indah/sempurna di Pulau Kadidiri……..baca selengkapnya Wisata Laut Pulau Togean
.
Pelabuhan Pulau Togian
Pelabuhan Pulau Togian
Obyek Wisata Danau Poso terkenal karena :
Keindahan  Tentena Kabupaten Poso dikelilingi perbukitan yang ditumbuhi tanaman cengkeh
Di danau Poso ini hidup sejenis ikan belut / ikan sidat (Sogili) yang terbesar di Dunia
Pelestarian Angrek terbesar di Indonsia yang ditemukan Angrek Hitam yang sangat khas dan hanya ada di daerah ini.
Sovenir terbuat dari Kayu emoni (Kayu Hitam)
Tarian Khas Suku Pamona
Air Terjun
Festival Danau Poso…..baca selengkapnya Wisata Danau Poso
Danau Poso
Danau Poso

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Asal Usul Palu

Kota Palu yang berada tepat di tengah-tengah pulau sulawesi merupakan sebuah kota yang kecil yang berpenduduk sekitar 400rb jiwa. Memiliki kultur masyarakat heterogen, berasal dari hampir seluruh suku bangsa negeri ini.

Dalam rentan sejarah bangsa ini, kota Palu sangat jarang di sebutkan baik itu sejarah sebelum maupun sesudah kemerdekaan. yang kemudian memunculkan berbagai pertanyaan, kenapa yah? apa sebabnya bisa begitu? apakah Kota Palu belum ada pada saat itu?

Dalam kesempatan ini kami mencoba mengungkap kembali berbagai peristiwa penting yang terjadi di Palu yang saat ini sedikit terlupakan (atau mungkin tidak pernah didapatkan di bangku sekolah?) dan mengendap di perpustakaan-perpustakaan dan di rak-rak buku kita yang sudah berdebu, seperti debu-debu yang beterbangan di dalam kota.


Sekilas,

Untuk ukuran sebuah kota, dalam hal ini sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan Palu telah berumur lebih dari 400 tahun yang di diami oleh penduduk asli yaitu suku Kaili. Yang sampai saat ini menjadi salah satu suku yang terbanyak jumlah penduduknya di Sulawesi Tengah yang berjumlah sekitar 45% dari keseluruhan jumlah penduduk Sulawesi Tengah.

Sangat sedikit literatur yang membicarakan kota Palu, kalaupun ada usianya sudah lebih dari 20 tahun yang lalu. hal ini menjadi salah satu penghambat penelusuran sejarah. namun banyak hal yang dapat dilakukan untuk melacak sejarah yang terlupakan ini, salah satunya dengan folk-tale (cerita rakyat) yang masih ada dimasyarakat sampai saat ini.


Sedikit mengali,

Pada awalnya peadaban to-Kaili terletak di pegunungan yang mengintari laut Kaili (saat itu kata Palu belum digunakan, karena lembah Palu masih berupa lautan) yang terdiri dari beberapa Kerajaan lokal. to-Kaili juga terdiri dari beberapa subetnik Kaili diantaranya To-Sigi, To-Biromaru, To-Banawa, To-Dolo, To-Kulawi, To-Banggakoro, To-Bangga, To-Pakuli, To-Sibalaya, To-Tavaili, To-Parigi, To-Kulavi dan masih banyak lagi subetnis Kaili lainnya.

To-Kaili mendiami hampir seluruh seluruh Kota Palu, Kab. Donggala, Kab. Sigi dan Kab. Parigimautong.

Selain itu to-Kaili juga mempunyai beberapa dialek diantaranya dialek Ledo, Rai, Tara, Ija, Edo/Ado, Unde, dan lain-lain. an dari semua dialek, dialek Ledo merupakan dialek yang umum di gunakan. Semua dialek Kaili merupakan dialek yang dibedakab dari kata "sangkal", karena semua jenis dialek Kaili mengandung pengrartian "tidak".

Kaili sendiri konon katanya diambil dari satu jenis pohon yang bernama Kaili (saat ini sudah punah) sebuah pohon yang sangat besar dan tinggi yang menjadi penanda daratan bagi orang-orang yang memasuki teluk Kaili (teluk Palu dulu bernama teluk Kaili). Pohon Kaili ini diperkirakan terletak diantara Kalinjo (sebelah timur Ngata Baru) dan Sigimpu (sebelah Tenggara desa Bora). ditengarai pohon ini terletak di Ngata Kaili (sebuah kampung yang terletakdi sebelah selatan Paneki, saat ini masih didiami oleh masyarakat etnik Kaili).

Dalam Epos Galigo tercatat satu riwayat Sawerigading, yang pernah menginjakan kakinya di tanah Kaili, peristiwa ini terjadi sekitar abad 8-9 M. Cerita tentang Sawerigading sangat populer di masyarakat Bugis dan juga masyarakat Kaili. Peristiwa ini juga merupakan cikal bakal terjalinnya hubungan dagang antara Kerajaan-Kerajaan di Tanah Kaili khususnya Kerajaan Banawa dan Kerajaan Sigi.

Kapan adanya Palu?

Teluk Kaili dahulu sangat luas yang tepi pantai sebelah barat berada di Desa Bangga, di belah timur sampai ke Desa Bora dan mengintari Desa Loru. Bisa di bayangkan seperti apa lembah Palu pada saat itu. proses surutnya laut teluk Kaili diperkirakan terjadi sebelum Abad 16, sebab pada Abad 16 sudah ada Kerajaan Palu.

Ada beberapa versi tentang surutnya laut Kaili yang berkebang di masyarakat, salah satunya adalah saat seekor anjing yang mengganggu ketenangan seekor belut lalu kemudian terjadi perkelahian hebat yang menyebabkan sang belut keluar dari lubangnya kemudian oleh si anjing, belut tersebut di seret menuju laut dan serta merta air laut pun surut dan berakhir di talise.

Lubang belut itu yang kemudian menjadi Rano Lindu (Danau Lindu) sedangkan tanah bekas di seretnya sang belut kemudian menjadi sungai Palu.

Dalam versi lain di sebutkan proses surutnya air laut terjadi pada saat Kerajaan sigi yang saat itu di pimpin oleh seorang perempuan bernama Ngilinayo atau lebih di kenal dengan nama Itondei sedang melakukan pesta besar untuk rakyat Sigi da terjadi sebuah bencana besar yang mengguncang seluruh daerah Tanah Kaili. bencana itu menyebabkabkan laut Kaili menyusut dan membentuk daratan yang pada saat itu di sebut "LEMBA" atau lembah. tidak diketahui berapa lama proses ini berlangsung. pun halnya dengan menjadi subur dan nyamannya "LEMBA" untuk ditinggali.

Subur dan nyamannya lembah Kaili menggoda para masyarakat yang pada saat surutnya laut Kaili sudah menjadi masyarakat pegunungan untuk menempatinya. terjadilah gelombang urban baik dari barat lembah maupun dari timur lembah. di timur lembah terjadi dua gelombang yaitu:

- gelombang pertama menempati daerah yang di tumbuhi ilalang (Biro) yang sekarang bernama Biromaru

- gelombang kedua memecah diri menjadi dua, kelompok yang satu pun memilih Biromaru dan yang lainnya melanjutkan perjalanan menuju Palu.

Gelombang urban ini kesemuanya berasal dari Raranggonau, sebuah daerah yang terletak di sebelah timur Paneki.

Untuk menamai tempat yang di diaminya (dalam hal ini urban yang menuju ke Palu) maka masyarakat menanan Avo mPalu di tepi sungai Palu (tidak diketahui dimana letak yang pasti). Avo mPalu adalah adalah salah satu jenis bambu yang bentuknya kecil (Avo mPalu = bambu kecil) yang tumbuh di Daerah Raranggonau. dan seterusnya nama Palu ini digunakan.

dari barat lembah terjadi satu gelombang yang berasal dari bangga lalu kemudian menempati satu wilayah yang kini dikenal dengan nama Dolo.


Berapa usia kota Palu?

Pada Abad 16 dalam Aksara Lontara telah di sebutkan satu Kerajaan di tanah Kaili yang bernama Kerajaan Palu. punhalnya para intelektual belada pada Abad 18 telah menggunakan kata Palu untuk menunjuk daerah lembah Kaili.

Patut ditelusuri kapan tepatnya penggunaan kata Palu untuk Kota Palu sebab hal ini dapat mengungkap tabir peradaban masyarakat Kaili. Sayangnya, masyarakat Kaili tidak menganut budaya tulis, melainkan budaya lisan. Hal ini disebabkan karena orang Kaili mempunyai satu filosofi bahwa tubuh adalah dunia yang kecil, dan apun yang terjadi di dunia merupakan kejadian dalam diri. Dengan kata lain tubuh adalah rangkaian catatan-catatan yang terus mengalir dari waktu kewaktu.

Pengertian Kaili secara lingua franca lebih merujuk kepada tubuh, tempat mengalirnya darah. No -Kaili = mengaliri, dari hulu ke hilir memberi kehidupan dan pengalaman baru kepada apapun yang dilaluinya.


= catatan khusus=

dari semua peradaban to-Kaili yang coba diungkap disini masih ada lagi satu peadaban yang di tengarai juga sangat tua yaitu peradanan Lando, yaitu peradaban to-Kaili yang terletak diantara raranggonau dan tompu. dan ada satu Kerajaan Kaili tertua yang bernama Kerajaan Sidima yang terletak di Negeri Kalinjo (sebelah timur Tompu). Namun, kurangnya literatur menyebabkan pembahasan ini belum dapat di publikasikan.

Pada tulisan ini juga kami tidak menggunakan kata bolovatu mPalu tapi avo mPalu, dikarenakan penamaan bambu bagi To-Kaili untuk bolovatu digunakan untuk bambu berukuran besar seperti bambu gobong. Sedangkan avo di gunakan untuk bambu yang berukuran lebih kecil.

Tulisan ini dihimpun dari berbagai sumber yang di observasi secara literatur dan wawancara.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MENCARI PATUNG MEGALITIK DI BEHOA



EKSPEDISI Tadulako. Sesuai namanya, sasaran perjalanan saya bersama enam pemuda adalah Patung Tadulako di Lembah Behoa. Kebetulan dua di antara anggota rombongan berasal dari Universitas Tadulako, perguruan tinggi di Palu.
Ekspedisi berlangsung pada 24 April – 2 Mei 2002. Diawali dengan menumpang sebuah truk dari Palu menuju Danau Tambing, 85 km selatan Palu. Malamnya, kami menginap di tepi danau yang amat dingin, sekitar 15 derajat celsius, maklum musim hujan.
Kamis, 25 April, kami memulai ekspedisi dari titik awal di Danau Tambing (Kalimpaa), 1.700 m dpl di salah satu kawasan utara Taman Nasional Lore Lindu (TNLL), Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso. Kami menapaki jalur selatan Lembah Napu (Lore Utara). Jalan berliku, menanjak dan menurun, cukup melelahkan. Perjalanan hari pertama membawa kami istrahat di Desa Toe yang lebih dikenal sebagai Desa Dodolo.

Dihadang hujan dan banjir

Kami kembali mendirikan tenda, kali itu di samping jembatan, dekat base station Motorola milik Balai TNLL (BTNLL). Rupanya, kegiatan kami memasang tenda sambil memasak nasi dan air dengan kompor rakitan dari kaleng susu menarik perhatian warga setempat.
Mereka tak hanya datang menonton, tapi juga memasok air bersih, karena sungai sedang banjir. Salah seorang yang cukup besar bantuannya pada kami adalah Pak Djakariah Kaiyo, sarjana pendamping masyarakat yang sudah menjadi warga Dodolo sejak tahun 1994. Ia sukarela mengantar kami melapor ke rumah kepala desa, juga membantu soal logistik.
Menjelang sore hari kedua kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Talabosa. Celakanya, saat itu hujan turun. Atas persetujuan Kades Talabosa, D.S. Ragi, kami bermalam di baruga (rumah pertemuan) milik BTNLL. Di sana pun kami disambut baik, sebagaimana di desa-desa sebelumnya.
Dari beberapa pemuka masyarakat kami mendapat informasi tentang adat istiadat, sejarah, sumber daya alam dan berbagai hal mengenai Lembah Napu/Behoa di Tanah Lore. Memang sepanjang perjalanan, kami selalu mengumpulkan informasi, baik latar belakang sejarah, keberadaan benda-benda megalit, maupun sumber daya alam.
Perjalanan demi perjalanan dilakoni, meski badan pegal dan kaki lecet-lecet. Hari ketiga, Sabtu (27 April), kami meninggalkan Talabosa. Mestinya kami bisa langsung ke Desa Doda, ibu kota Kecamatan Lore Tengah, 170 km selatan Kota Palu, yang baru dimekarkan September 2001. Namun, hujan semalam meruntuhkan jembatan Sungai Torire. Kami terpaksa menunggu sampai sore hari sembari menanti selesainya rakit bambu buatan warga Desa Torire.
Setelah menyeberang dengan rakit pada sore harinya, kami pun bermalam di baruga di tengah perkampungan Torire. Di desa ini pun kami banyak mendapat informasi mengenai sejarah Tanah Behoa dan berbagai kekayaan TNLL. Di TNLL terdapat sebaran terutama satwa endemik Sulawesi, seperti anoa, babirusa, rusa, tarsisus, musang, dan lainnya.
Tanah longsor dan jembatan rusak, sangat menghambat perjalanan ekspedisi kami. Menurut warga setempat, ambruknya jembatan Sungai Torire, terjadi sudah untuk kesekian kalinya. Penyebabnya, musim hujan, yang disusul banjir setiap saat. Konstruksi jembatan beton juga tidak sesuai dengan tanah pinggir sungai yang labil, sehingga mudah terbawa arus sungai. Selama dua bulan sebelumnya, jembatan tersebut sudah tiga kali rubuh. Malah, akhir Maret lalu, tragedi itu menelan dua korban jiwa setelah terjungkal bersama truk yang ditumpanginya.

Megalit monumental

Kami meninggalkan Torire pada Minggu, 28 April, usai sarapan untuk menjelajah sejauh 18 km menuju Desa Doda. Sepanjang jalur Torire - Doda jalan tertimbun longsor karena erosi. Banyak pohon tumbang merintangi jalan, menghambat lancarnya transportasi. Bisa dimengerti dampak selanjutnya, harga barang kebutuhan sehari-hari pun jadi jauh lebih mahal di Lembah Behoa.
Kami menginap di baruga desa. Baruga Doda paliang besar dan nyaman. Dua kamar yang tersedia membuat tubuh kami merasa lebih hangat, nyaman. Maklum musim hujan di Lembah Napu dan Behoa terasa sangat dingin bagi kami yang biasa berada di daerah panas Palu.
Bendera merah putih yang dikibarkan di beranda baruga memancing warga untuk singgah. Sikap hangat mereka membuat kami tidak merasa terasing. Bahkan seorang warga dekat baruga meminjami pelita minyak tanah untuk penerangan. Maklum, saat itu perangkat dinamo Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang dibuat tahun 1989 dan selama ini jadi penerang desa – rusak sejak Januari lalu.
Doda berpenduduk 1.015 jiwa dengan luas 16.548 hektar, yang dikelilingi pegunungan. Selain dikenal memiliki pemandangan sangat indah, di sana banyak terdapat benda purbakala megalit yang asal-usulnya diperkirakan dari masa antara 2.000 – 500 tahun SM. Wah, mungkinkah sejak itu pula kawasan ini sudah menjadi hunian manusia?
Sore hari, dua jam setiba di sana, kami pun berkunjung ke situs megalit bernama Padang Tadulako, jaraknya 1,5 km dari baruga. Kami melewati pematang sawah, rawa-rawa tempat kerbau berkubang, dan rimbunanya padang ilalang.
Dari jauh sudah tertangkap mata di antara hamparan padang Buleli tegak berdiri Patung Tadulako. Patung setinggi 2 m itu menjadi patung monumental, tertinggi dan terbesar di lembah Behoa.
Patung itu berdiri kokoh, tegak lurus dengan langit. Bentuk kepalanya terlihat tidak rata di bagian atasnya, sedikit ada benjolan. Secara fisik pembuatannya agak kasar dibanding dengan Palindo, patung besar setinggi 4 m di Lembah Bada, sekitar 30 km dari Behoa.
Pembuatan Patung Tadulako tampaknya lebih sederhana. Beberapa cirinya tampak unik, jidatnya tidak terlalu menonjol, hidung pesek tapi agak memanjang, dan mata lebar.
Tangannya pun tidak terlalu besar, tampak terulur ke bawah dekat kelamin. Bagian bawah (pusar) menunjukkan jenis kelamin laki-laki, sebagai simbol keperkasaan atau ketadulakoan bagi laki-laki.
Istilah Tadulako ditemui di dalam kehidupan beberapa suku di Sulawesi Tengah, yakni suku Behoa, Napu, Bada, Mori, Kaili dan Pamona. Suku-suku yang menggunakan istilah Tadulako tersebut memiliki kekerabatan yang kuat ditandai kesamaan subdialek bahasa, adat-istiadat, dan latar belakang sejarah.
Jadi, Tadulako tak hanya menjadi simbol keteladanan, kepemimpinan, dan keberanian nenek moyang suku Behoa.
Itu karena, menurut K.S. Malonta, tokoh masyarakat adat Behoa di Desa Torire, “Nama Tadulako untuk patung di Behoa itu, sudah dikenal sejak dulu. Nama itu juga simbol persatuan dan kesatuan.”
Di dekat Patung Tadulako terdapat dua Kalamba, semacam gentong batu besar. Tiga megalit tersebut hanya sebagian kecil dari puluhan patung manusia baik yang berdiri maupun yang rebah, kalamba, batu-batu dakon, dan lainnya yang tersebar di lembah Behoa. Tak hanya berujud patung manusia, ada juga patung kerbau, biawak, dan monyet. Patung-patung itu terletak di Bukit Pokokea, Kampung Bariri, sekitar 4 km dari Doda. Peninggalan megalit juga dapat ditemukan di Desa Hanggira dan Lempe.
Masalahnya, apakah orang Behoa yang membuat peninggalan arkeologi tersebut?
“Secara turun-temurun kami hanya tahu bahwa benda itu merupakan peninggalan zaman dahulu. Kami tidak tahu, apakah leluhur kami yang membuat atau bukan,” kata Eka Mujianto Winono tokoh masyarakat Doda yang asli Suku Behoa.
Rumah tua antigempa
Selain peninggalan megalit, di Doda terdapat pula rumah tua berusia ratusan tahun dengan arsitektur tradisional Suku Behoa. Masyarakat menyebut Tambi sebagai tempat kediaman dan Buho untuk lumbung padi. Dua bangunan itu terletak di dekat lapangan bola, setelah sebelumnya si pemilik memindahkan dari permukiman lama dekat sebuah bukit.
Kedua bangunan tua milik T. Taro (71) itu terakhir kali ditempati tahun 1971. Taro memilih menempati rumah biasa di samping Tambi, menyusul dijadikannya rumah itu untuk cagar budaya oleh Direktorat Perlindungan Sejarah dan Purbakala.
Seluruh bagian bangunan Tambi maupun Buho terbuat dari kayu pilihan, baik tiang penyangga maupun lantai, sedangkan atapnya dari bambu berlapis ijuk. Atap itu sekaligus menjadi dinding rumah. Hebatnya, konon, bangunan tradisional ini tahan gempa dan itu dibuktikan dengan keberadaannya sejak ratusan tahun silam.
Dalam pembuatannya tidak memakai paku atau pasak, melainkan cukup diikat dengan rotan. Unik dan artistik. Tak heran bila bangunan itu distilir untuk bangunan modern seperti halnya Kantor DPRD Sulteng dan Museum Negeri Sulteng.
Sayangnya, saat ini kedua bangunan tua (Tambi dan Buho) itu tidak terurus. Bahkan pintu Tambi hilang pada Maret lalu. Papan pengenal yang menunjukkan sebagai cagar budaya pun sudah kabur. Itu pun tidak lagi terpasang di halaman, melainkan tersimpan di kolong rumah.
Setali tiga uang dengan Tambi dan Buho, demikian pula kondisi megalit di Behoa, baik di Desa Doda, Desa Hanggira, maupun di Desa Bariri. Sekitar lima tahun lalu (1996/1997) masing-masing situs megalit dijaga petugas yang khusus ditunjuk oleh Bidang Sejarah dan Kepurbakalaan Depdiknas. Namun, kini (2002) tidak lagi, karena petugas tak pernah mendapat honor.

Makin sepi

Adanya benda-benda megalit di Behoa yang mendapat perhatian para peneliti dan turis, bagi Eka memang membanggakan. Dulu setiap minggu selalu ada saja wisman datang berkunjung, meski jumlahnya hanya 2 – 3 orang. Sayangnya, sejak meletus kerusuhan sosial di Poso tahun 1998, Lembah Behoa jarang dikunjungi wisatawan, meski sesungguhnya kawasan itu sama sekali tidak terlibat dalam konflik.
Sayangnya pula, tidak ada anggota masyarakat Behoa tertarik pada benda-benda tersebut. Padahal seorang arkeolog dari Universitas Indonesia (UI), Jakarta, beberapa tahun lalu menawarkan, kalau ada pelajar di Behoa yang tamat SMU, bisa langsung diterima kuliah di UI tanpa menanggung biaya pendidikan. Tawaran itu tidak bersambut.
Biar bagaimanapun, beberapa warga Behoa yakin, di masa datang wisatawan akan berkunjung kembali. Alasannya, Doda merupakan tempat yang memang sangat menarik – selain pemandangan alamnya, juga karena peninggalan prasejarah megalit berupa patung-patung dan kalamba berada di tengah kampung.
Namun, masalah klasik masih menanti, yakni pengaspalan jalan. Itulah yang kini (tahun 2002) dinanti-nantikan saudara-saudara kita di Behoa. Nah, akankah Behoa terisolasi sebagaimana keberadaan peninggalan-peninggalan megalitnya yang masih misterius?*


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kamus Bahasa Inggris Online - Kamus Inggris Indonesia

Terjemahkan kalimat bahasa Inggris ke Indonesia
Kamus Besar Bahasa Indonesia
Kamus Bahasa Inggris
Kamus Inggris-Indonesia
Kamus Indonesia-Inggris

Bagaimana cara belajar bahasa Inggris dengan mudah, cepat dan efektif? Ada banyak metode tapi setiap teknik mengharuskan satu hal: ketekunan! Sama seperti belajar silat, atau main alat musik, nyanyi, dsb. belajar bahasa Inggris juga harus dilakukan secara rutin. Jika ada kata / vocabulary yang baru dan tidak tahu artinya, maka segera cari di kamus! Perbanyak membaca dan menulis dalam bahasa Inggris, coba nonton film tanpa subtitle (untuk mengasah listening skill), dan kalau ada kesempatan, cobalah berlatih percakapan / English conversation bersama siapa saja.
Website KamusBahasaInggris.com dibuat untuk memudahkan proses belajar tersebut. Situs ini merupakan alat bantu untuk mencari arti kata bahasa Inggris-Indonesia. Tidak perlu membuka kamus tebal dan berat, mencari di tiap halaman. Cukup ketik kata yang ingin dicari kemudian klik salah satu tombol, maka padanan kata akan langsung tampil. Jauh lebih cepat dan mudah.
Pada jaman online seperti sekarang ini, proses belajar bisa dilakukan dari mana saja. Kalau jaman dulu kita harus pergi ke tempat kursus, sekarang dengan materi yang melimpah di Internet, kita bisa belajar sendiri. Bahkan ada sejumlah website yang menawarkan English course secara online di mana kita belajar per modul, dengan pengajar native speaker. Terdapat juga banyak forum bahasa untuk mendiskusikan grammar, idiom, dsb. Sekali lagi yang penting adalah ketekunan; asalkan serius dan konsisten, pasti akan mahir. Entah belajar sendiri ataupun belajar di tempat kursus bahasa Inggris.
Selamat belajar! :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS