Loading...

BlogUpp!

Feryzal Dolu Magindali ( KPA RECHINS). Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Kabupaten Kota Palu

Nama Resmi :Kota Palu
Ibukota :Palu
Provinsi :Sulawesi Tengah
Batas Wilayah:Utara: Berbatasan dengan Kecamatan Tawaeli dan Kecamatan Banawa Kab. Donggala dan Teluk PaluSelatan: Berbatasan dengan Kecamatan Sigi Biromaru dan Kecamatan Dolo Kab. Donggala.Barat: Berbatasan dengan Kecamatan Banawa dan Kecamatan Marawola Kab. Donggala.
Timur: Berbatasan dengan Kecamatan Parigi Kabupaten Parimo.
Luas Wilayah:
395,06 Km2
Jumlah Penduduk: 
339.132 Jiwa
Wilayah Administrasi:Kecamatan: 4, Kelurahan: 43
Website:http://www.palukota.go.id

(Permendagri No.66 Tahun 2011)

Sejarah

Sejarah Kota Palu | Sulwesi Tengah ~ Palu adalah “Kota Baru” yang letaknya di muara sungai. Dr. Kruyt menguraikan bahwa Palu sebenarnya tempat baru dihuni orang (De Aste Toradja’s van Midden Celebes). Awal mula pembentukan kota Palu berasal dari penduduk Desa Bontolevo di Pegunungan Ulayo. Setelah pergeseran penduduk ke dataran rendah, akhirnya mereka sampai di Boya Pogego sekarang ini
Kota Palu sekarang ini adalah bermula dari kesatuan empat kampung, yaitu : Besusu, Tanggabanggo (Siranindi) sekarang bernama Kamonji, Panggovia sekarang bernama Lere, Boyantongo sekarang bernama Kelurahan Baru. Mereka membentuk satu Dewan Adat disebut Patanggota. Salah satu tugasnya adalah memilih raja dan para pembantunya yang erat hubungannya dengan kegiatan kerajaan. Kerajaan Palu lama-kelamaan menjadi salah satu kerajaan yang dikenal dan sangat berpengaruh. Itulah sebabnya Belanda mengadakan pendekatan terhadap Kerajaan Palu. Belanda pertama kali berkunjung ke Palu pada masa kepemimpinan Raja Maili (Mangge Risa) untuk mendapatkan perlindungan dari Manado di tahun 1868. Pada tahun 1888, Gubernur Belanda untuk Sulawesi bersama dengan bala tentara dan beberapa kapal tiba di Kerajaan Palu, mereka pun menyerang Kayumalue. Setelah peristiwa perang Kayumalue, Raja Maili terbunuh oleh pihak Belanda dan jenazahnya dibawa ke Palu. Setelah itu ia digantikan oleh Raja Jodjokodi, pada tanggal 1 Mei 1888 Raja Jodjokodi menandatangani perjanjian pendek kepada Pemerintah Hindia Belanda.
Berikut daftar susunan raja-raja Palu :
1. Pue Nggari (Siralangi) 1796 - 1805
2. I Dato Labungulili 1805 - 1815
3. Malasigi Bulupalo 1815 - 1826
4. Daelangi 1826 - 1835
5. Yololembah 1835 - 1850
6. Lamakaraka 1850 - 1868
7. Maili (Mangge Risa) 1868 - 1888
8. Jodjokodi 1888 - 1906
9. Parampasi 1906 - 1921
10. Djanggola 1921 - 1949
11. Tjatjo Idjazah 1949 – 1960
Setelah Tjatjo Idjazah, tidak ada lagi pemerintahan raja-raja di wilayah Palu. Setelah masa kerajaan telah ditaklukan oleh pemerintah Belanda, dibuatlah satu bentuk perjanjian “Lange Kontruct” (perjanjian panjang) yang akhirnya dirubah menjadi “Karte Vorklaring” (perjanjian pendek). Hingga akhirnya Gubernur Indonesia menetapkan daerah administratif berdasarkan Nomor 21 Tanggal 25 Februari 1940. Kota Palu termasuk dalam Afdeling Donggala yang kemudian dibagi lagi lebih kecil menjadi Arder Afdeling, antara lain Order Palu dengan ibu kotanya Palu, meliputi tiga wilayah pemerintahan Swapraja, yaitu :
1. Swapraja Palu
2. Swapraja Dolo
3. Swapraja Kulawi
Pertumbuhan Kota Palu setelah Indonesia merebut kemerdekaan dari tangan penjajah Belanda kemudian Jepang pada tahun 1945 semakin lama semakin meningkat. Dimana hasrat masyarakat untuk lebih maju dari masa penjajahan dengan tekat membangun masing-masing daerahnya. Berkat usaha makin tersusun roda pemerintahannya dari pusat sampai ke daerah-daerah. Maka terbentuklah daerah Swatantra tingkat II Donggala sesuai peraturan pemerintah Nomor 23 Tahun 1952 yang selanjutnya melahirkan Kota Administratif Palu yang berbentuk dengan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1978.
Berangsur-angsur susunan ketatanegaraan RI diperbaiki oleh pemerintah pusat disesuaikannya dengan keinginan rakyat di daerah-daerah melalui pemecehan dan penggabungan untuk pengembangan daerah, kemudian dihapuslah pemerintahan Swapraja dengan keluarnya peraturan yang antara lain adalah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957 dan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 serta Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1964 Tentang Terbentuknya Dati I Propinsi Sulteng dengan Ibukota Palu.
Dasar hukum pembentukan wilayah Kota Administratif Palu yang dibentuk tanggal 27 September 1978 atas Dasar Asas Dekontrasi sesuai Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 Tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah. Kota Palu sebagai Ibukota Propinsi Dati I Sulawesi Tengah sekaligus ibukota Kabupaten Dati II Donggala dan juga sebagai ibukota pemerintahan wilayah Kota Administratif Palu. Palu merupakan kota kesepuluh yang ditetapkan pemerintah menjadi kota administratif.
Sebagai latar belakang pertumbuhan Kota Palu dalam perkembangannya tidak dapat dilepaskan dari hasrat keinginan rakyat di daerah ini dalam pencetusan pembentukan Pemerintahan wilayah kota untuk Kota Palu dimulai sejak adanya Keputusan DPRD Tingkat I Sulteng di Poso Tahun 1964. Atas dasar keputusan tersebut maka diambil langkah-langkah positif oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah dan Pemerintah Dati II Donggala guna mempersiapkan segala sesuatu yang ada kaitannya dengan kemungkinan Kota Palu sebagai Kota Administratif. Usaha ini diperkuat dengan SK Gubernur KDH Tingkat I Sulteng Nomor 225/Ditpem/1974 dengan membentuk Panitia Peneliti kemungkinan Kota Palu dijadikan Kota Administratif, maka pemerintah pusat telah berkenan menyetujui Kota Palu dijadikan Kota Administratif dengan dua kecamatan yaitu Palu Barat dan Palu Timur.
Berdasarkan landasan hukum tersebut maka pemerintah Kotif Palu memulai kegiatan menyelenggarakan pemerintahan di wilayah berdasarkan fungsi sebagai berikut :
a. Meningkatkan dan menyesuaikan penyelenggaraan pemerintah dengan perkembangan kehidupan politik dan budaya perkotaan.
b. Membina dan mengarahkan pembangunan sesuai dengan perkembangan sosial ekonomi dan fisik perkotaan.
c. Mendukung dan merangsang secara timbal balik pembangunan wilayah Propinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah pada umumnya dan Kabupaten Dati II Donggala.
Hal ini berarti pemerintah wilayah Kotif Palu menyelenggarakan fungsi-fungsi yang meliputi bidang-bidang :
1. Pemerintah
2. Pembina kehidupan politik, ekonomi, sosial budaya perkotaan
3. Pengarahan pembangunan ekonomi, sosial dan fisik perkotaan
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tanggal 12 Oktober 1994, Mendagri Yogi S. Memet meresmikannya Kotamadya Palu dan melantik Rully Lamadjido, SH sebagai walikotanya. Kota Palu terletak memanjang dari timur ke barat disebelah utara garis katulistiwa dalam koordinat 0,35 – 1,20 LU dan 120 – 122,90 BT. Luas wilayahnya 395,06 km2 dan terletak di Teluk Palu dengan dikelilingi pegnungan. Kota Palu terletak pada ketinggian 0 – 2500 m dari permukaan laut dengan keadaan topografis datar hingga pegunungan. Sedangkan dataran rendah umumnya tersebut disekitar pantai.

Arti Logo


BINTANG BERSUDUT LIMA BERWARNA KUNING KEEMASAN Melambangkan rakyat Kota Palu menjunjung tinggi dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung pada Pancasila

UNTAIAN PADI 27 BUTIR DAN RANGKAIAN BUNGA KAPAS 9 BUAH Melambangkan tanggal dan bulan lahirnya Kota Palu.

RUMAH ADAT SOU RAJA BERWARNA COKLAT MEMPUNYAI 12 TIANG DAN 10 ANAK TANGGA Menggambarkan tanggal dan bulan peresmian Kotamadya Daerah Tingkat II Palu dan sebagai tempat tinggal raja serta tempat bermusyawarah bagi wakil rakyat.

ALUR 2 GARIS LENGKUNG BERWARNA PUTIH Menggambarkan Kota Palu terdapat beberapa sungai,lembah serta letak geografis Kota Palu yang diapit 2 buah pegunungan.

GARIS OMBAK BERWARNA BIRU MUDA TERDIRI DARI 7 DAN 8 GELOMBANG Menggambarkan tahun kelahiran Kota Palu

GARIS VERTIKAL BERWARNA HIJAU MUDA 5 BUAH DI BAWAH PITA BERWARNA PUTIH BERTULISKAN “MALIU NTINUVU" Mengartikan Kota Palu merupakan Daerah Tingkat II yang ke 5 di Sulteng.

GARIS LURUS VERTIKAL BERWARNA HITAM Menggambarkan tekad yang kuat,kokoh dan tegar dalam melaksanakan pembangunan.

PITA BERWARNA PTUIH TERLETAK PADA TANGKAI PADI DAN KAPAS BERTULISKAN “MALIU NTINUVU" Bermakna mempersatukan semua unsur/potensi yang ada.

ARTI LAMBANG
1. GAMBAR BERBENTUK BUAH KELAPA DAN BELANGA Melambangkan kekayaan daerah, Sikap terbuka masyarakat Kota Palu, mempersatukan semua unsur, serta berfalsafah Pancasila.
2. GARIS LURUS VERTIKAL PEMISAH WARNA HIJAU DAN KUNING Melambangkan Kota Palu selalu membina rasa persatuan dan kesatuan
3. BAGIAN PINGGIR GAMBAR BERWARNA HITAM Melambangkan usaha melestarikan dan memelihara kebudayaan daerah

Nilai Budaya

Penduduk asli di Palu adalah suku Kaili. Suku lainnya yang bisa dijumpai di Palu adalah Bugis, Makassar, Jawa, Toraja, dan sebagainya. Suku India, China dan Arab juga bisa dijumpai di kota yang indah ini.
Ciri khas orang Palu adalah sederhana, partisipatif, ramah dan suka menolong. Mereka juga suka tinggal secara berkelompok. Pakaian tradisional suku Kaili sangat bercorak yang menandakan bahwa mereka adalah orang yang sangat atraktif.
Pusat kegiatan bisnis ada di Palu sebagai ibukota propinsi. Itulah sebabnya mengapa penduduk di kota Palu lebih beragam dibandingkan daerah lain di Sulawesi Tengah. Namun, sebagian penduduk asli masih bermukim di daerah pegunungan. Mereka disebut orang "TOLARE". Para masyarakat unik ini masih menjaga cara hidup tradisional mereka. Penduduk di Palu memiliki satu filosofi hidup yang selalu mereka jaga dalam menjalankan kegiatan sehari-hari. Filosofi itu adalah NOSARARA NOSABATUTU yang berarti Bersama Kita Satu. Itulah gambaran kebersamaan untuk mencapai tujuan keberhasilan

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MAKAM LELUHUR SUKU ASLI POSO


makam leluhur suku asli poso di antara bebatuan gua

jika anda mengunjungi kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, mampirlah ke gua latea di tentena.salah satu pilihan untuk melepaskan kepenatan sembari menelusuri masa lalu dengan pemandangan alam yang indah.

suku Pamona, suku asli Poso mempunyai kebiasaan unik saat menguburkan keluarganya yang meninggal dunia jenazah diletakan di dalam peti kayu yang kemudian disimpan di dalam gua.

sisa-sisa tradisi suku pamona ini masih bisa kita saksikan di gua –gua pamona salah satunya adalah Gua Latea, tentena sekitar 57 kilometer arah barat daya kota Poso.


Gua Latea adalah gua alam berupa bukit kapur yang usia genesisnya ditaksir tidak kurang dari 30 juta tahun silam. gua ini digunakan sebagai kuburan suku pamona leluhur orang pamona yang juga biasanya disebut orang Poso itu dulunya hidup di bukit-bukit, khususnya yang hidup di perbukitan Wawolembo.

sistem penguburan dengan menaruh jenazah di gua-gua itu baru berakhir sekitar abad ke-19 masehi, setelah para penginjil dari belanda menyebarkan agama kristen di wilayah ini. gua ini pernah mengalami keruntuhan batuan sekitar lebih 2000 tahun silam.

gua latea terdiri dari dua kamar utama kamar pertama terletak di kaki bukit di mana terdapat empat pasang peti jenazah dan 36 tengkorak manusia beserta rangkanya.
kamar kedua, terletak di atas bukit berisi di mana terdapat 17 pasang peti jenazah 47 buah tengkorak dan lima buah gelang tangan.

gua ini adalah kuburan leluhur suku pamona. cara penguburan zaman dulu masyarakat pamona ini sama seperti yang dilakukan di tanah toraja, sulawesi selatan. berdasarkan historisnya orang Pamona dan orang Toraja masih memiliki hubungan kekerabatan yang sangat erat.

tidak hanya di gua latea, kuburan nenek moyang orang pamona lainnya terdapat di gua pamona yang letaknya persis di tepi danau Poso, Tangkaboba nama gua itu, gua ini memiliki 12 ruang.

mengunjungi gua-gua kuburan leluhur suku asli Poso membuat pikiran lepas dari kepenatan rutinitas kerja sehari-hari.apalagi sejauh mata memandang, kita dikelilingi danau poso yang bening dan hawa udara dingin tentena nan segar.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Wisata Poso

Beaches, favourite place for Sunday family leisure...
Beaches, favourite place for Sunday family leisure...
Kawasan Poso dan sekitarnya dikaruniai keindahan alam yang luar biasa. Alam tropis dengan matahari cerah sepanjang hari merupakan anugerah yang tentu tidak selamanya dinikmati negara-negara empat musim seperti Asia Utara, Eropa, Australia, dan Amerika. Dipadu dengan keindahan pantai dan pulau-pulau serta taman laut yang indah, serta keunikan adat-istiadat masyarakat lokal yang unik, tentulah merupakan daya tarik wisata yang tidak akan ditemui di tempat lain. Adapun ikon utama pariwisata Poso dan sekitarnya adalah:
  1. Berbicara tentang taman laut, Kepulauan Togean yang terletak di sebelah Utara kota Poso merupakan surga bagi penggemar olahraga menyelam (diving) ataupun snorkeling. Taman laut Togean berisi ribuan jenis ikan dan coral yang terlindung aman dibalik air laut yang jernih dan tenang. Penggemar olahraga laut maupun mereka yang sekedar ingin menikmati ketenangan alam dapat memilih Togean islands sebagai tujuan wisata.
  2. Danau Poso yang terletak di daerah Tentena merupakan salah satu danau terdalam dan terindah di Indonesia. Bentangan danau seluas kurang lebih 32.000 ha dengan kedalaman sampai 510m ini menawarkan keindahan alam yang menantang untuk dinikmati dan ditelusuri. Pinggirannya berpasir putih keemasan dan airnya yang jernih berombak seperti laut. Selain mengundang wisatawan, danau Poso juga menarik minat para ilmuwan untuk melakukan penelitian. Karakteristik air danau juga mengundang investor yang kini mengembangkan ikan jenis-jenis tertentu untuk pasaran ekspor. Danau Poso masih menyisakan banyak peluang dan tantangan dieksplorasi untuk pengembangan lebih lanjut.
  3. Festival Danau Poso merupakan pekan budaya rakyat Poso yang diadakan setiap tahun di kawasan danau Poso. Keunikan budaya yang dipadu dengan keindahan alami danau Poso menarik wisatawan domestik maupun mancanegara untuk menikmati festival ini setiap tahun.
  4. Pulau Kelelawar terletak di kecamatan Ampibabo, sekitar 97 kilometer dari kota Palu dan dapat dicapai dengan semua jenis kendaraan. Keindahan alam di Pulau Kelelawar sangat menawan, terutama bagi mereka yang menyukai hobby diving, snorkeling atau sekedar mandi matahari.
  5. Air Terjun Saluopa, merupakan air terjun bersusun 12 tingkat yang dikelilingi hutan tropis yang menawan. Air terjun ini terletak di terletak di sebelah barat kota Tentena, Poso. Wisatawan dapat naik ke tingkat yang tertinggi melalui bebatuan di bawah derasnya air. Pemandangan sekitarnya membawa keteduhan alami.
  6. Gua Pamona dan Latea merupakan penanda tradisi Toraja yang hadir di kawasan ini sejak lama. Dalam gua ini dapat ditemukan tengkorak dan tulang-tulang mayat persis yang dapat dilihat di gua-gua alam pemakaman Tana Toraja. Gua ini terletak di daerah Tentena.
  7. Populasi burung Maleo (maccrocephalon maleo) merupakan salah satu keunikan fauna yang hanya dapat ditemui di Sulawesi Tengah, Utara dan Tenggara. Untuk Sulawesi Tengah, burung ini dapat ditemui di daerah Sausu, Kab. Parigi Moutong dan beberapa tempat di Kab. Tojo Una-una.
  8. Pantai Nalera menawarkan pesona pantai tenang berpasir putih sepanjang 5km. Pantai ini terletak di desa Marantale, Parigi sekitar 64 kilometer dari kota Palu. Biasanya setiap akhir pekan, pantai ini ramai dikunjungi warga sekitar ataupun dari luar kota untuk berwisata bahari.
  9. Cagar Alam Morowali berada di wilayah Kabupaten Morowali. Dari pelabuhan Kolonedale, perjalanan ke Cagar Alam Morowali dilakukan dengan motor laut selama kurang lebih 1 jam. Cagar Alam Morowali merupakan hunian bagi berbagai satwa dan flora ekosistem asli Sulawesi. Dengan luas sekitar 225.000ha, Cagar Alam Morowali menawarkan keindahan pesona alam yang lengkap mulai dari pantai, hutan mangrove, hutan alluvial dataran rendah, hutan rawa, hutan pegunungan dan hutan lumut pada ketinggian 2.600 meter di atas permukaan laut, dengan 3 sungai utama. Kawasan ini dihuni suku tradisional Wana.
  10. Taman Laut Teluk Tomori adalah keindahan lain yang ditawarkan kawasan Morowali. Teluk yang tepat berada di depan Kolonedale ini dihuni oleh pulau-pulau kecil yang eksotis dengan keindahan alaminya. Sebut saja pulau Rumbia, Pengia dll serta gua-gua alam yang tak kalah menarik. Kehidupan dan aktivitas nelayan di kawasan ini juga menjadi attraksi tersendiri yang menarik perhatian wisatawan.
Masih banyak eksotisme wisata alam Poso dan sekitarnya siap memanjakan siapapun yang datang menyapa kawasan ini. Pesona alamnya lengkap, mulai dari pesona pantai dan kepulauan sampai ke pesona keindahan pegunungan. Wisatawan yang menyukai perjalanan alam (trekking) akan mendapatkan pengalaman yang tak akan terlupakan.
Refreshing life in Togean Island
Refreshing life in Togean Island

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pegunungan Meratus


Pegunungan ini menjadi bagian dari 8 kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan yaitu: Hulu Sungai Tengah (HST), Hulu Sungai Utara (HSU), Hulu Sungai Selatan (HSS), Tabalong, Kotabaru, Tanah Laut, Banjar dan Tapin.

Pegunungan Meratus merupakan kawasan berhutan yang bisa dikelompokkan sebagai hutan pegunungan rendah. Kawasan ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dengan beberapa vegetasi dominan, antara lain: Meranti Putih (Shorea spp), Meranti Merah (Shorea spp), Agathis (Agathis spp), Kanari (Canarium dan Diculatum BI), Nyatoh (Palaquium spp), Medang (Litsea sp), Durian (Durio sp) Gerunggang (Crotoxylon arborescen BI), Kempas (Koompassia sp), Belatung (Quercus sp).

Kedudukan kawasan hutan yang menjadi hulu sebagian besar Daerah Aliran Sungai (DAS) menjadikan kawasan ini sangat penting bagi Provinsi Kalimantan Selatan sebagai kawasan resapan air. Di sisi lain kondisi kelerengan lahan yang cukup terjal dan jenis tanah yang peka erosi menjadikannya memiliki nilai kerentanan (fragility) yang tinggi. Dengan berbagai pertimbangan di atas dan juga fungsi kenyamanan lingkungan  (amenities) bagi masyarakat di bagian hilir, maka penutupan hutan merupakan satusatunya pilihan, sehingga kawasan hutan Pegunungan Meratus harus dipertahankan sebagai hutan lindung dan dijauhkan dari kerusakan.

Berdasarkan tipe penutupan lahan kawasan Pegunungan Meratus dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: Hutan
Dataran Tinggi (+ 11.345 ha), Hutan Pegunungan (+ 26.345 ha) dan Lahan Kering tidak Produktif (+ 8.310 ha). Sedangkan berdasarkan pengamatan okuler, sebagian besar tataguna lahan di sekitar hutan lindung Pegunungan Meratus adalah areal perladangan, hutan sekunder hingga semak belukar serta perkebunan rakyat.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Gunung Palung


Kawasan Gunung Palung dikukuhkan sebagai Taman Nasional pada tanggal 24 Maret 1990, dengan luas 90.000 HA. kawasan tersebut secara geografis terletak pada 1000' - 1020' LS  dan 1090 00' - 1100 24'BT, dan secara adminitrasi melingkupi Kecamatan Sukadana, Simpang Hilir dan Sungai Laur Kabupaten Ketapang, Kawasan Taman Nasional Gunung Palung, memiliki topografi yang sangat beragam. Mulai topografi landai terutama  di daerah pantai (O m dpl) sampai topografi yang curam mencapai ketinggian 1116 m dpl. Kondisi ini memungkinkan terdapatnya beranekaragaman jenis vegetasi, mulai dari vegetasi Hutan Pantai hingga vegetasi Hutan Pegunungan atas.
Taman Nasional Gunung Palunga termasuk dalam lingkup kerja Sub Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat.

Untuk Taman Nasional Gunung Palung dari  Ibukota Propinsi Kalimantan Barat dapat ditempuh dengan beberapa cara :
1. Melalui Ketapang
  • Dari  Pontianak - Ketapang dapat dtempuh dengan pesawat selama ± 1 jam atau dengan Kapal bermotor (Ekspress) selama 6 -7 jam.
  • Perjalanan dilanjutkan dari Ketapang ke Sukadana dengan bis penumpang atau kendaraan ojek selama 2 jam.
  • Kemudian dari Sukadana ke lokasi Taman Nasional dapat ditempuh dengan longboat (perahu panjang bermesin motor) pada musim penghujan atau mempergunakan sampan apabila musim kemarau.
2. Melalui Teluk Melano
  • Dari Pontianak - Teluk Melano dapat ditempuh dengan speedboat (± 4 jam)melewati Rasau Jaya atau dengan kapal bermotor selama 10 jam. Selanjutnya dari Teluk Melano dapat langsung menuju lokasi Taman Nasional Gunung Palung dengan speedboat atau sampan.

Potensi sumberdaya alam yang menjadikan kawasan ini menjadi daya tarik khusus adalah keberadaan tipe ekosistemnya yang lengkap. Mulai dari tipe vegetasi Hutan Pantai, Hutan Mangrove (Payau), Hutan Rawa Gambut, Hutan daratan rendah hingga vegetasi Hutan puncak Pegunungan. Pada masing-masing tipe ekosistem tersebut dihuni oleh beranekaragaman jenis satwa liar, diantaranya golongan Primata seperti : Orang Utan (Pongo pygmaeus), Klempiau (Hylobates moloch), Bekantan (Nasalis larvatus), Kelasi (Presbytis rubicunda) serta Kera ekor panjang (Mcaca fascicularis). Satwa ini sering dijumpai ditajuk-tajuk pohon.


Jenis-jenis satwa lain juga dapat dijumpai seperti Kukang (Nycticebous coucang), gerombolan kelelawar (Rhinolopusluctus sp), Kalong (Pteropus vampirus), Tupai Besar (Ratufa offinis), Bajing (Callosciurus nofatus), Beruang Madu (Helarctos malayanus), Kijang (Muntiacus muncak) Kancil (Tragulus napu). Dari Klas Reptil, ada Buaya (Crocodylus sp), Biawak (Varanus sp), Kura-kura (Tortoidae) serta Penyu (Careta careta).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Gunung Lumut


MENDENGAR ‘lumut’, pasti yang terlintas adalah sekelompok vegetasi kecil yang tumbuh pada tempat lembab atau perairan dan biasanya tumbuh meluas menutupi permukaan. Di perairan lumut dapat menutupi dasar atau dinding sungai atau danau.

Tapi berbeda lumut yang satu ini. Lumut ini berupa gunung yang memiliki pesona panorama alam dan kehidupan masyarakat lokal (tau Taa Wanba) yang masih sangat kental dalam menjalankan tradisi dan kearifan leluhur mereka , adalah Gunung Lumut atau dalam bahasa masyarakat setempat dinamai Tongku Barenge.

Meski memiliki Beragampotensi alam yang menakjubkan, kawasan gunung ini masih sangat jarang dieksplorasi para penggemar kegiatan petualangan khususnya pendaki gunung.

Salah satu faktor penyebab adalah minimnya informasi yang tersedia mengenai Gunung ini. Selain itu terbatasnya akses untuk lokasi pendakian yang ideal merupakan faktor penyebab lainnya.

Gunung ini secara administratif termasuk dalam wilayah Kabupaten Morowali, akan tetapi akses termudah untuk memulai titik start pendakian dari wilayah kabupaten Tojo Una-una.

Selain keindahan alam rimba belantara yang masih jarang tersentuh serta kekayaan aneka ragam satwa merupakan daya pikat yang dimiliki gunung lumut ditambah tantangan jalur pendakian yang belum pernah dibuka, merupakan tantangan yang sangat mengasyikan bagi para pengemar olahraga dan kegiatan pendakian gunung.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Lembah Napu

Lembah Napu merupakan suatu Iembah yang meliputi wilayah desa Sedoa, Wuasa, Wanga, Watutau. Lembah dengan udara yang sejuk ml merupakan wilayah penyangga dan Taman Nasional Lore Lindu pada wilayah kerja TNLL Bidang Pengelolaan Wilayah III Poso, dan secara administratif termasuk dalam Kecamatan Lore Utara. Lembah ini berjarak sekitar I 05 km dari Kota Palu.


Daya Tarik
Lembah Napu memiliki lahan basah yang luas, pegunungan yang benhutan pada semua sisinya dan lahan pertanian yang bagus. Di Wuasa, terdapat tempat pengamatan bunung yang baik, memiliki beberapa jalan setapak dan hutannya kaya akan epifit. Dan di tepian hutan yang berbatasan dengan padang rumput mempunyai banyak spesies burung seperti - Mandar muka biru, berbagai jenis elang, Peragam Putih, Kipasan Sulawesi

Di Wanga dan Watutau, beberapa masyarakat masih memegang teguh kebudayaan tradisional dalam kehidupannya, seperti penerapan cara-cara bertani tradisional, acara upacara perkawinan dan perayaan panen raya. 



Aksesbilitas

Perjalanan menuju Lembah Napu dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat atau angkutan umum selama 3 jam. Jalan naya sampai ke lokasi kondisinya cukup baik.

Kendaraan umum ke Wuasa dapat ditemukan di terminal Petobo - Palu.




Fasilitas

Penginapan dan rumah makan kecil dan jalan trekking masuk ke hutan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS