Loading...

BlogUpp!

Feryzal Dolu Magindali ( KPA RECHINS). Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Asal Usul Palu

Kota Palu yang berada tepat di tengah-tengah pulau sulawesi merupakan sebuah kota yang kecil yang berpenduduk sekitar 400rb jiwa. Memiliki kultur masyarakat heterogen, berasal dari hampir seluruh suku bangsa negeri ini.

Dalam rentan sejarah bangsa ini, kota Palu sangat jarang di sebutkan baik itu sejarah sebelum maupun sesudah kemerdekaan. yang kemudian memunculkan berbagai pertanyaan, kenapa yah? apa sebabnya bisa begitu? apakah Kota Palu belum ada pada saat itu?

Dalam kesempatan ini kami mencoba mengungkap kembali berbagai peristiwa penting yang terjadi di Palu yang saat ini sedikit terlupakan (atau mungkin tidak pernah didapatkan di bangku sekolah?) dan mengendap di perpustakaan-perpustakaan dan di rak-rak buku kita yang sudah berdebu, seperti debu-debu yang beterbangan di dalam kota.


Sekilas,

Untuk ukuran sebuah kota, dalam hal ini sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan Palu telah berumur lebih dari 400 tahun yang di diami oleh penduduk asli yaitu suku Kaili. Yang sampai saat ini menjadi salah satu suku yang terbanyak jumlah penduduknya di Sulawesi Tengah yang berjumlah sekitar 45% dari keseluruhan jumlah penduduk Sulawesi Tengah.

Sangat sedikit literatur yang membicarakan kota Palu, kalaupun ada usianya sudah lebih dari 20 tahun yang lalu. hal ini menjadi salah satu penghambat penelusuran sejarah. namun banyak hal yang dapat dilakukan untuk melacak sejarah yang terlupakan ini, salah satunya dengan folk-tale (cerita rakyat) yang masih ada dimasyarakat sampai saat ini.


Sedikit mengali,

Pada awalnya peadaban to-Kaili terletak di pegunungan yang mengintari laut Kaili (saat itu kata Palu belum digunakan, karena lembah Palu masih berupa lautan) yang terdiri dari beberapa Kerajaan lokal. to-Kaili juga terdiri dari beberapa subetnik Kaili diantaranya To-Sigi, To-Biromaru, To-Banawa, To-Dolo, To-Kulawi, To-Banggakoro, To-Bangga, To-Pakuli, To-Sibalaya, To-Tavaili, To-Parigi, To-Kulavi dan masih banyak lagi subetnis Kaili lainnya.

To-Kaili mendiami hampir seluruh seluruh Kota Palu, Kab. Donggala, Kab. Sigi dan Kab. Parigimautong.

Selain itu to-Kaili juga mempunyai beberapa dialek diantaranya dialek Ledo, Rai, Tara, Ija, Edo/Ado, Unde, dan lain-lain. an dari semua dialek, dialek Ledo merupakan dialek yang umum di gunakan. Semua dialek Kaili merupakan dialek yang dibedakab dari kata "sangkal", karena semua jenis dialek Kaili mengandung pengrartian "tidak".

Kaili sendiri konon katanya diambil dari satu jenis pohon yang bernama Kaili (saat ini sudah punah) sebuah pohon yang sangat besar dan tinggi yang menjadi penanda daratan bagi orang-orang yang memasuki teluk Kaili (teluk Palu dulu bernama teluk Kaili). Pohon Kaili ini diperkirakan terletak diantara Kalinjo (sebelah timur Ngata Baru) dan Sigimpu (sebelah Tenggara desa Bora). ditengarai pohon ini terletak di Ngata Kaili (sebuah kampung yang terletakdi sebelah selatan Paneki, saat ini masih didiami oleh masyarakat etnik Kaili).

Dalam Epos Galigo tercatat satu riwayat Sawerigading, yang pernah menginjakan kakinya di tanah Kaili, peristiwa ini terjadi sekitar abad 8-9 M. Cerita tentang Sawerigading sangat populer di masyarakat Bugis dan juga masyarakat Kaili. Peristiwa ini juga merupakan cikal bakal terjalinnya hubungan dagang antara Kerajaan-Kerajaan di Tanah Kaili khususnya Kerajaan Banawa dan Kerajaan Sigi.

Kapan adanya Palu?

Teluk Kaili dahulu sangat luas yang tepi pantai sebelah barat berada di Desa Bangga, di belah timur sampai ke Desa Bora dan mengintari Desa Loru. Bisa di bayangkan seperti apa lembah Palu pada saat itu. proses surutnya laut teluk Kaili diperkirakan terjadi sebelum Abad 16, sebab pada Abad 16 sudah ada Kerajaan Palu.

Ada beberapa versi tentang surutnya laut Kaili yang berkebang di masyarakat, salah satunya adalah saat seekor anjing yang mengganggu ketenangan seekor belut lalu kemudian terjadi perkelahian hebat yang menyebabkan sang belut keluar dari lubangnya kemudian oleh si anjing, belut tersebut di seret menuju laut dan serta merta air laut pun surut dan berakhir di talise.

Lubang belut itu yang kemudian menjadi Rano Lindu (Danau Lindu) sedangkan tanah bekas di seretnya sang belut kemudian menjadi sungai Palu.

Dalam versi lain di sebutkan proses surutnya air laut terjadi pada saat Kerajaan sigi yang saat itu di pimpin oleh seorang perempuan bernama Ngilinayo atau lebih di kenal dengan nama Itondei sedang melakukan pesta besar untuk rakyat Sigi da terjadi sebuah bencana besar yang mengguncang seluruh daerah Tanah Kaili. bencana itu menyebabkabkan laut Kaili menyusut dan membentuk daratan yang pada saat itu di sebut "LEMBA" atau lembah. tidak diketahui berapa lama proses ini berlangsung. pun halnya dengan menjadi subur dan nyamannya "LEMBA" untuk ditinggali.

Subur dan nyamannya lembah Kaili menggoda para masyarakat yang pada saat surutnya laut Kaili sudah menjadi masyarakat pegunungan untuk menempatinya. terjadilah gelombang urban baik dari barat lembah maupun dari timur lembah. di timur lembah terjadi dua gelombang yaitu:

- gelombang pertama menempati daerah yang di tumbuhi ilalang (Biro) yang sekarang bernama Biromaru

- gelombang kedua memecah diri menjadi dua, kelompok yang satu pun memilih Biromaru dan yang lainnya melanjutkan perjalanan menuju Palu.

Gelombang urban ini kesemuanya berasal dari Raranggonau, sebuah daerah yang terletak di sebelah timur Paneki.

Untuk menamai tempat yang di diaminya (dalam hal ini urban yang menuju ke Palu) maka masyarakat menanan Avo mPalu di tepi sungai Palu (tidak diketahui dimana letak yang pasti). Avo mPalu adalah adalah salah satu jenis bambu yang bentuknya kecil (Avo mPalu = bambu kecil) yang tumbuh di Daerah Raranggonau. dan seterusnya nama Palu ini digunakan.

dari barat lembah terjadi satu gelombang yang berasal dari bangga lalu kemudian menempati satu wilayah yang kini dikenal dengan nama Dolo.


Berapa usia kota Palu?

Pada Abad 16 dalam Aksara Lontara telah di sebutkan satu Kerajaan di tanah Kaili yang bernama Kerajaan Palu. punhalnya para intelektual belada pada Abad 18 telah menggunakan kata Palu untuk menunjuk daerah lembah Kaili.

Patut ditelusuri kapan tepatnya penggunaan kata Palu untuk Kota Palu sebab hal ini dapat mengungkap tabir peradaban masyarakat Kaili. Sayangnya, masyarakat Kaili tidak menganut budaya tulis, melainkan budaya lisan. Hal ini disebabkan karena orang Kaili mempunyai satu filosofi bahwa tubuh adalah dunia yang kecil, dan apun yang terjadi di dunia merupakan kejadian dalam diri. Dengan kata lain tubuh adalah rangkaian catatan-catatan yang terus mengalir dari waktu kewaktu.

Pengertian Kaili secara lingua franca lebih merujuk kepada tubuh, tempat mengalirnya darah. No -Kaili = mengaliri, dari hulu ke hilir memberi kehidupan dan pengalaman baru kepada apapun yang dilaluinya.


= catatan khusus=

dari semua peradaban to-Kaili yang coba diungkap disini masih ada lagi satu peadaban yang di tengarai juga sangat tua yaitu peradanan Lando, yaitu peradaban to-Kaili yang terletak diantara raranggonau dan tompu. dan ada satu Kerajaan Kaili tertua yang bernama Kerajaan Sidima yang terletak di Negeri Kalinjo (sebelah timur Tompu). Namun, kurangnya literatur menyebabkan pembahasan ini belum dapat di publikasikan.

Pada tulisan ini juga kami tidak menggunakan kata bolovatu mPalu tapi avo mPalu, dikarenakan penamaan bambu bagi To-Kaili untuk bolovatu digunakan untuk bambu berukuran besar seperti bambu gobong. Sedangkan avo di gunakan untuk bambu yang berukuran lebih kecil.

Tulisan ini dihimpun dari berbagai sumber yang di observasi secara literatur dan wawancara.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MENCARI PATUNG MEGALITIK DI BEHOA



EKSPEDISI Tadulako. Sesuai namanya, sasaran perjalanan saya bersama enam pemuda adalah Patung Tadulako di Lembah Behoa. Kebetulan dua di antara anggota rombongan berasal dari Universitas Tadulako, perguruan tinggi di Palu.
Ekspedisi berlangsung pada 24 April – 2 Mei 2002. Diawali dengan menumpang sebuah truk dari Palu menuju Danau Tambing, 85 km selatan Palu. Malamnya, kami menginap di tepi danau yang amat dingin, sekitar 15 derajat celsius, maklum musim hujan.
Kamis, 25 April, kami memulai ekspedisi dari titik awal di Danau Tambing (Kalimpaa), 1.700 m dpl di salah satu kawasan utara Taman Nasional Lore Lindu (TNLL), Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso. Kami menapaki jalur selatan Lembah Napu (Lore Utara). Jalan berliku, menanjak dan menurun, cukup melelahkan. Perjalanan hari pertama membawa kami istrahat di Desa Toe yang lebih dikenal sebagai Desa Dodolo.

Dihadang hujan dan banjir

Kami kembali mendirikan tenda, kali itu di samping jembatan, dekat base station Motorola milik Balai TNLL (BTNLL). Rupanya, kegiatan kami memasang tenda sambil memasak nasi dan air dengan kompor rakitan dari kaleng susu menarik perhatian warga setempat.
Mereka tak hanya datang menonton, tapi juga memasok air bersih, karena sungai sedang banjir. Salah seorang yang cukup besar bantuannya pada kami adalah Pak Djakariah Kaiyo, sarjana pendamping masyarakat yang sudah menjadi warga Dodolo sejak tahun 1994. Ia sukarela mengantar kami melapor ke rumah kepala desa, juga membantu soal logistik.
Menjelang sore hari kedua kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Talabosa. Celakanya, saat itu hujan turun. Atas persetujuan Kades Talabosa, D.S. Ragi, kami bermalam di baruga (rumah pertemuan) milik BTNLL. Di sana pun kami disambut baik, sebagaimana di desa-desa sebelumnya.
Dari beberapa pemuka masyarakat kami mendapat informasi tentang adat istiadat, sejarah, sumber daya alam dan berbagai hal mengenai Lembah Napu/Behoa di Tanah Lore. Memang sepanjang perjalanan, kami selalu mengumpulkan informasi, baik latar belakang sejarah, keberadaan benda-benda megalit, maupun sumber daya alam.
Perjalanan demi perjalanan dilakoni, meski badan pegal dan kaki lecet-lecet. Hari ketiga, Sabtu (27 April), kami meninggalkan Talabosa. Mestinya kami bisa langsung ke Desa Doda, ibu kota Kecamatan Lore Tengah, 170 km selatan Kota Palu, yang baru dimekarkan September 2001. Namun, hujan semalam meruntuhkan jembatan Sungai Torire. Kami terpaksa menunggu sampai sore hari sembari menanti selesainya rakit bambu buatan warga Desa Torire.
Setelah menyeberang dengan rakit pada sore harinya, kami pun bermalam di baruga di tengah perkampungan Torire. Di desa ini pun kami banyak mendapat informasi mengenai sejarah Tanah Behoa dan berbagai kekayaan TNLL. Di TNLL terdapat sebaran terutama satwa endemik Sulawesi, seperti anoa, babirusa, rusa, tarsisus, musang, dan lainnya.
Tanah longsor dan jembatan rusak, sangat menghambat perjalanan ekspedisi kami. Menurut warga setempat, ambruknya jembatan Sungai Torire, terjadi sudah untuk kesekian kalinya. Penyebabnya, musim hujan, yang disusul banjir setiap saat. Konstruksi jembatan beton juga tidak sesuai dengan tanah pinggir sungai yang labil, sehingga mudah terbawa arus sungai. Selama dua bulan sebelumnya, jembatan tersebut sudah tiga kali rubuh. Malah, akhir Maret lalu, tragedi itu menelan dua korban jiwa setelah terjungkal bersama truk yang ditumpanginya.

Megalit monumental

Kami meninggalkan Torire pada Minggu, 28 April, usai sarapan untuk menjelajah sejauh 18 km menuju Desa Doda. Sepanjang jalur Torire - Doda jalan tertimbun longsor karena erosi. Banyak pohon tumbang merintangi jalan, menghambat lancarnya transportasi. Bisa dimengerti dampak selanjutnya, harga barang kebutuhan sehari-hari pun jadi jauh lebih mahal di Lembah Behoa.
Kami menginap di baruga desa. Baruga Doda paliang besar dan nyaman. Dua kamar yang tersedia membuat tubuh kami merasa lebih hangat, nyaman. Maklum musim hujan di Lembah Napu dan Behoa terasa sangat dingin bagi kami yang biasa berada di daerah panas Palu.
Bendera merah putih yang dikibarkan di beranda baruga memancing warga untuk singgah. Sikap hangat mereka membuat kami tidak merasa terasing. Bahkan seorang warga dekat baruga meminjami pelita minyak tanah untuk penerangan. Maklum, saat itu perangkat dinamo Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang dibuat tahun 1989 dan selama ini jadi penerang desa – rusak sejak Januari lalu.
Doda berpenduduk 1.015 jiwa dengan luas 16.548 hektar, yang dikelilingi pegunungan. Selain dikenal memiliki pemandangan sangat indah, di sana banyak terdapat benda purbakala megalit yang asal-usulnya diperkirakan dari masa antara 2.000 – 500 tahun SM. Wah, mungkinkah sejak itu pula kawasan ini sudah menjadi hunian manusia?
Sore hari, dua jam setiba di sana, kami pun berkunjung ke situs megalit bernama Padang Tadulako, jaraknya 1,5 km dari baruga. Kami melewati pematang sawah, rawa-rawa tempat kerbau berkubang, dan rimbunanya padang ilalang.
Dari jauh sudah tertangkap mata di antara hamparan padang Buleli tegak berdiri Patung Tadulako. Patung setinggi 2 m itu menjadi patung monumental, tertinggi dan terbesar di lembah Behoa.
Patung itu berdiri kokoh, tegak lurus dengan langit. Bentuk kepalanya terlihat tidak rata di bagian atasnya, sedikit ada benjolan. Secara fisik pembuatannya agak kasar dibanding dengan Palindo, patung besar setinggi 4 m di Lembah Bada, sekitar 30 km dari Behoa.
Pembuatan Patung Tadulako tampaknya lebih sederhana. Beberapa cirinya tampak unik, jidatnya tidak terlalu menonjol, hidung pesek tapi agak memanjang, dan mata lebar.
Tangannya pun tidak terlalu besar, tampak terulur ke bawah dekat kelamin. Bagian bawah (pusar) menunjukkan jenis kelamin laki-laki, sebagai simbol keperkasaan atau ketadulakoan bagi laki-laki.
Istilah Tadulako ditemui di dalam kehidupan beberapa suku di Sulawesi Tengah, yakni suku Behoa, Napu, Bada, Mori, Kaili dan Pamona. Suku-suku yang menggunakan istilah Tadulako tersebut memiliki kekerabatan yang kuat ditandai kesamaan subdialek bahasa, adat-istiadat, dan latar belakang sejarah.
Jadi, Tadulako tak hanya menjadi simbol keteladanan, kepemimpinan, dan keberanian nenek moyang suku Behoa.
Itu karena, menurut K.S. Malonta, tokoh masyarakat adat Behoa di Desa Torire, “Nama Tadulako untuk patung di Behoa itu, sudah dikenal sejak dulu. Nama itu juga simbol persatuan dan kesatuan.”
Di dekat Patung Tadulako terdapat dua Kalamba, semacam gentong batu besar. Tiga megalit tersebut hanya sebagian kecil dari puluhan patung manusia baik yang berdiri maupun yang rebah, kalamba, batu-batu dakon, dan lainnya yang tersebar di lembah Behoa. Tak hanya berujud patung manusia, ada juga patung kerbau, biawak, dan monyet. Patung-patung itu terletak di Bukit Pokokea, Kampung Bariri, sekitar 4 km dari Doda. Peninggalan megalit juga dapat ditemukan di Desa Hanggira dan Lempe.
Masalahnya, apakah orang Behoa yang membuat peninggalan arkeologi tersebut?
“Secara turun-temurun kami hanya tahu bahwa benda itu merupakan peninggalan zaman dahulu. Kami tidak tahu, apakah leluhur kami yang membuat atau bukan,” kata Eka Mujianto Winono tokoh masyarakat Doda yang asli Suku Behoa.
Rumah tua antigempa
Selain peninggalan megalit, di Doda terdapat pula rumah tua berusia ratusan tahun dengan arsitektur tradisional Suku Behoa. Masyarakat menyebut Tambi sebagai tempat kediaman dan Buho untuk lumbung padi. Dua bangunan itu terletak di dekat lapangan bola, setelah sebelumnya si pemilik memindahkan dari permukiman lama dekat sebuah bukit.
Kedua bangunan tua milik T. Taro (71) itu terakhir kali ditempati tahun 1971. Taro memilih menempati rumah biasa di samping Tambi, menyusul dijadikannya rumah itu untuk cagar budaya oleh Direktorat Perlindungan Sejarah dan Purbakala.
Seluruh bagian bangunan Tambi maupun Buho terbuat dari kayu pilihan, baik tiang penyangga maupun lantai, sedangkan atapnya dari bambu berlapis ijuk. Atap itu sekaligus menjadi dinding rumah. Hebatnya, konon, bangunan tradisional ini tahan gempa dan itu dibuktikan dengan keberadaannya sejak ratusan tahun silam.
Dalam pembuatannya tidak memakai paku atau pasak, melainkan cukup diikat dengan rotan. Unik dan artistik. Tak heran bila bangunan itu distilir untuk bangunan modern seperti halnya Kantor DPRD Sulteng dan Museum Negeri Sulteng.
Sayangnya, saat ini kedua bangunan tua (Tambi dan Buho) itu tidak terurus. Bahkan pintu Tambi hilang pada Maret lalu. Papan pengenal yang menunjukkan sebagai cagar budaya pun sudah kabur. Itu pun tidak lagi terpasang di halaman, melainkan tersimpan di kolong rumah.
Setali tiga uang dengan Tambi dan Buho, demikian pula kondisi megalit di Behoa, baik di Desa Doda, Desa Hanggira, maupun di Desa Bariri. Sekitar lima tahun lalu (1996/1997) masing-masing situs megalit dijaga petugas yang khusus ditunjuk oleh Bidang Sejarah dan Kepurbakalaan Depdiknas. Namun, kini (2002) tidak lagi, karena petugas tak pernah mendapat honor.

Makin sepi

Adanya benda-benda megalit di Behoa yang mendapat perhatian para peneliti dan turis, bagi Eka memang membanggakan. Dulu setiap minggu selalu ada saja wisman datang berkunjung, meski jumlahnya hanya 2 – 3 orang. Sayangnya, sejak meletus kerusuhan sosial di Poso tahun 1998, Lembah Behoa jarang dikunjungi wisatawan, meski sesungguhnya kawasan itu sama sekali tidak terlibat dalam konflik.
Sayangnya pula, tidak ada anggota masyarakat Behoa tertarik pada benda-benda tersebut. Padahal seorang arkeolog dari Universitas Indonesia (UI), Jakarta, beberapa tahun lalu menawarkan, kalau ada pelajar di Behoa yang tamat SMU, bisa langsung diterima kuliah di UI tanpa menanggung biaya pendidikan. Tawaran itu tidak bersambut.
Biar bagaimanapun, beberapa warga Behoa yakin, di masa datang wisatawan akan berkunjung kembali. Alasannya, Doda merupakan tempat yang memang sangat menarik – selain pemandangan alamnya, juga karena peninggalan prasejarah megalit berupa patung-patung dan kalamba berada di tengah kampung.
Namun, masalah klasik masih menanti, yakni pengaspalan jalan. Itulah yang kini (tahun 2002) dinanti-nantikan saudara-saudara kita di Behoa. Nah, akankah Behoa terisolasi sebagaimana keberadaan peninggalan-peninggalan megalitnya yang masih misterius?*


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kamus Bahasa Inggris Online - Kamus Inggris Indonesia

Terjemahkan kalimat bahasa Inggris ke Indonesia
Kamus Besar Bahasa Indonesia
Kamus Bahasa Inggris
Kamus Inggris-Indonesia
Kamus Indonesia-Inggris

Bagaimana cara belajar bahasa Inggris dengan mudah, cepat dan efektif? Ada banyak metode tapi setiap teknik mengharuskan satu hal: ketekunan! Sama seperti belajar silat, atau main alat musik, nyanyi, dsb. belajar bahasa Inggris juga harus dilakukan secara rutin. Jika ada kata / vocabulary yang baru dan tidak tahu artinya, maka segera cari di kamus! Perbanyak membaca dan menulis dalam bahasa Inggris, coba nonton film tanpa subtitle (untuk mengasah listening skill), dan kalau ada kesempatan, cobalah berlatih percakapan / English conversation bersama siapa saja.
Website KamusBahasaInggris.com dibuat untuk memudahkan proses belajar tersebut. Situs ini merupakan alat bantu untuk mencari arti kata bahasa Inggris-Indonesia. Tidak perlu membuka kamus tebal dan berat, mencari di tiap halaman. Cukup ketik kata yang ingin dicari kemudian klik salah satu tombol, maka padanan kata akan langsung tampil. Jauh lebih cepat dan mudah.
Pada jaman online seperti sekarang ini, proses belajar bisa dilakukan dari mana saja. Kalau jaman dulu kita harus pergi ke tempat kursus, sekarang dengan materi yang melimpah di Internet, kita bisa belajar sendiri. Bahkan ada sejumlah website yang menawarkan English course secara online di mana kita belajar per modul, dengan pengajar native speaker. Terdapat juga banyak forum bahasa untuk mendiskusikan grammar, idiom, dsb. Sekali lagi yang penting adalah ketekunan; asalkan serius dan konsisten, pasti akan mahir. Entah belajar sendiri ataupun belajar di tempat kursus bahasa Inggris.
Selamat belajar! :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Danau Tambing Sulawesi Tengah

Lokasi:
Danau Tambing berada dalam wilayah kerja Bidang Pengelolaan Wilayah II Makmur TNLL-Kecamatan Lore Utara. Danau Tambing berjarak sekitar 55 km dan Palu.
Daya Tarik :
Danau Tambing berada pada ketinggian I .700 mdpl dengan danau berawa dan dikelilingi Iingkungan hutan yang masih alami. Keadaan Iingkungan yang sangat tenang menjadikan lokasi ini sebagai lokasi sempurna untuk pengamatan burung dan biasa juga digunakan sebagai lokasi berkemah. Danau Tambing memiliki kedalaman air hingga 10 meter dan memilki beberapa jenis
ikan endemik. Keindahan alami danau ml bisa dinikmati dengan menggunakan perahu kecil (katinting) untuk menyebrangi danau.
Spesies burung yang dapat dijumpai : Pecuk Padi Hitam Sulawesi, Sikatan Dahi Biru, Burung Madu, Sungu Kerdil, Kepodang Sungu Biru, Itik Benjut, Titihan Telaga, Malia.
Aksesbilitas :
Lokasi ini dapat ditempuh dengan mobil atau angkutan umum selama kurang Iebih 2 jam dan kota Palu. Kondisi jalan raya menuju lokasi cukup baik.
Fasilitas :
Jalan setapak, perahu ketinting dan shelter

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mitos Keangkeran Sebuah Gunung

Masyarakat yang tinggal disekitar gunung masih percaya akan adanya mahkluk halus yang tinggal di hutan-hutan, mata air, batu besar, pohon besar, kawah, dan puncak gunung. Penduduk sekitar gunung Merapi yakin bahwa puncak Merapi adalah istana mahluk halus.
Pasar bubrah adalah pasarnya bangsa mahkluk halus. Watu gubug di Gn.Merbabu adalah pintu gerbang menuju kerajaan Gaib. Di puncak gunung Gede terdapat lapangan luas yang konon pendaki yang berkemah di sana sering mendengar derap kaki kuda atau melihat istana.
Di Ranu Kumbolo didekat gn Semeru para pendaki yang berkemah sering melihat hantu wanita muncul dari tengah danau. Peristiwa-peritiwa gaib sering dialami para pendaki hampir di seluruh gunung-gunung yang terkenal dengan keangkerannya. Para pendaki sering diingatkan oleh masyarakat setempat, petugas, maupun peraturan yang jelas-jelas berisi pantangan-pantangan yang berhubungan dengan makhluk halus penghuni gunung yang bersangkutan.
“Pintu Gerbang Kerajaan Gaib” di puncak Merbabu
Untuk mendaki Gn. Agung di Bali pendaki dilarang membawa makanan yang mengandung daging sapi. Beberapa peraturan mistik di gunung yang umum berlaku misalnya pendaki wajib minta ijin (permisi) ketika melewati tempat-tempat tertentu, mau beristurahat, mau buang air. Dilarang mengenakan pakaian berwarna merah atau hijau, dilarang mendaki bagi wanita yang datang bulan. Larangan mendaki gunung Sundoro pada hari jawa Wage dan Selasa Kliwon. Larangan mendaki gunung Agung pada hari besar agama.
Upacara Labuhan Gunung MerapiTerlepas dari percaya atau tidak percaya, seorang pendaki yang sopan harus tetap mengikuti perturan-peraturan masyarakat setempat.
Tidak ada salahnya kita menghormati kepercayaan masyarakat setempat, juga guna menghindari terjadinya hal-hal yang tidakdiinginkan. Akibat buruk yang terjadi biasanya, pendaki akan linglung kehilangan arah sehingga akan berputar- putar di suatu tempat, bisa jadi akan kesurupan, atau akan berjumpa dengan hal-hal yang aneh, bisa juga mengakibatkan kecelakaan yang fatal.
Di tengah danau Ranu Kumbolo di tengah malam bulan purnama, sering muncul penampakan Dewi Penunggu danau, yang berupa gumpalan kabut tebal yang berputar-putar dan berubah menjadi seorang wanita.
pembagian makhluk halus menurut primbon jawa bisa diliat disini
Di dunia ini sebenarnya memiliki tujuh macam alam kehidupan, termasuk alam yang dihuni oleh manusia. Masing-masing Alam ditempati oleh bermacam- macam mahkluk. Mahkluk-mahkluk dari tujuh alam tersebut, pada prinsipnya mereka mengurusi alamnya masing-masing, aktivitas mereka tidak bercampur, setiap alam mempunyai urusannya masing-masing. Dari tujuh alam itu hanyalah alamnya manusia yang mempunyai matahari dan penduduknya yang terdiri dari manusia, binatang dan lain-lain mempunyai badan jasmani.
Penduduk dari 6 alam yang lain mereka mempunyai badan dari cahaya ( badan Cahya ) atau yang secara populer dikenal sebagai mahkluk halus, mahkluk yang tidak kelihatan. Di 6 alam itu tidak ada hari yang terang berderang karena tidak ada matahari. Keadaannya seperti suasana malam yang cerah dibawah sinar bulan dan bintang-bintang yang terang, maka itu tidak ada sinar yang menyilaukan seperti sinar matahari atau bagaskoro ( Jawa halus )
Ada 2 macam mahkluk halus yakni Mahkluk halus asli yang memang dilahirkan sebagai mahkluk halus, dan Mahkluk halus yang berasal dari manusia yang telah meninggal. Seperti juga manusia ada yang baik dan jahat, ada yang pintar dan bodoh. Mahkluk-mahkluk halus yang asli mereka tinggal di dunianya masing-masing, mereka mempunyai masyarakat maka itu ada mahkluk halus yang mempunyai kedudukan tinggi seperti Raja-raja, Ratu-ratu, Menteri-menteri dll, sebaliknya ada yang berpangkat rendah seperti prajurit, pegawai, pekerja dll. beberapa kerajaan makhluk halus terbesar bisa dilihat disini
Gangguan Manusia kepada Mahkluk Halus
Kehadiran manusia di tempat-tempat yang dihuni mahkluk halus kadangkala menimbulkan gangguan bagi mahkluk halus, oleh sebab itu sebaiknya manusia minta ijin (permisi) terlebih dahulu bila memasuki wilayah mereka. Bau-bauan sering mengganggu mereka, untuk itu seorang pendaki jangan sembarangan buang air. Bau rokok dan minuman keras dapat membangunkan mahkluk halus yang sedang tidur. Suara gaduh juga bisa membuat marah mahkluk halus.
Pendaki yang iseng memindahkan atau merusak tanaman atau benda-benda, bisa jadi secara tidak sadar ikut merusak tempat tinggal mahkluk halus. Memindahkan batu besar yang diyakini sebagai tempat tinggal mahkluk halus, kadang kala tidak pernah berhasil, begitu juga dengan upaya menebang pohon besar seringkali gagal, harus dengan disertai upacara membayar ganti rugi, berupa sesaji khusus.
Penebangan dan pengrusakan hutan dan pembangunan sarana-sarana kebutuhan manusia secara tidak langsung telah merusak tempat-tempat tinggal mahkluk halus. Sehingga hanya masyarakat mahkluk halus yang tinggal di gunung-gunung dan hutan-hutan, samudera-lah yang masih bisa lestari. Mahkluk halus sebagai penghuni dan penjaga alam bagaimanapun juga harus dihargai sebagai layaknya mahkluk yang lain. Kemarahan mahkluk halus bisa menimbulkan bencana wabah penyakit, tanah longsor, banjir, bahkan gunung meletus.
Bagi pendaki yang pernah melakukan pendakian seorang diri pasti akan merasakan berbagai suasana nuansa gaib. Percaya atau tidak dengan alam mahkluk halus, setiap pendaki tetap harus memahami tempat- tempat yang dianggap sakral dan angker oleh masyarakat setempat. Setidak-tidaknya bisa membawa oleh-oleh bahan cerita yang seru tentang gunung yang didaki.
Seorang Pecinta Alam Sejati akan menyapa matahari ketika muncul di ufuk timur. Hembusan angin kencang dianggap sebagai kejenakaan seorang sahabat, kucuran hujan deras adalah ajakan alam untuk bermain dan bercanda. Batu besar atau batang pohon bisa menjadi kawan kita berbicara, Burung – burung mengajak kita bernyanyi. Alam memang memiliki roh kehidupan. Pendaki yang ramah dan menghormati Alam, dia akan turun gunung dengan semangat hidup yang baru yang dipenuhi spirit of the mountain.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Gunung Gawalise 2023 mdpl

Kalau anda gemar mendaki gunung dan kebetulan tengah berada di kota Palu, maka mendaki gunung Gawalise adalah sebuah kesempatan yang sungguh sayang bila terlewatkan. Betapa tidak, gunung yang berada tepat di sebelah barat kota Palu ini bukan hanya menawarkan tantangan olahraga alam bebas namun juga pesona panorama alam dan khazanah budaya masyarakat setempat yang sangat indah.
Gunung Gawalise merupakan salah satu gunung di Sulawesi Tengah yang menjadi tujuan para pendaki, baik dari sulteng sendiri maupun dari luar.Gunung ini terletak disisi barat kota Palu, dengan ketinggian mencapai2023 m,Jalur pendakian ke Gunung melalui kelurahan Silae tepatnya dari lokasi Taman Ria kota Palu atau dibibir pantai teluk Palu.
Pendakian ke gawalise termasuk ideal, hal ini dikarenakan akses para pendaki yang cukup mudah, dapat ditempuh sekitar 10 menit dari pusat kota palu dengan angkutan umum. 1 jam perjalanan dari pelabuhan pantoloan atau cukup 15 menit dari bandara mutiara Palu.
Selain lokasi yang mudah dan murah dicapai, Puskesmas atau rumah sakit juga cukup dekat, Puskesmas lengkap yang terdekat adalah puskesmas Kamonji sekitar 3 Kilometer dari titik start dan Rumah Sakit Umum Anutapura 3 kilometer yang mudah dicapai dengan angkutan umum.
Pos Polisi juga tidak begitu jauh, kantor Polsek Palu Barat hanya berkisar 2,5 kilometer.Saat anda mengakhiri pendakian, tak ada salahnya anda mampir di tepi pantai Taman ria yang akan anda lalui nantinya, selain sekedar melepas lelah disini anda bisa menikmati pemandangan khas Teluk Palu sembari mencicipi aneka makanan khas Palu di warung-warung tenda yang berjejeran di sepanjang garis pantainya. Nah, semoga anda berkesempatan menjajal tantangan sekaligus menikmati keindahan gunung gawalise.
Gunung Gawalise berada di sebelah barat kota Palu tepatnya di kelurahan silae. Gunung ini merupakan pilihan alternatif para pendaki di Palu  karena jaraknya yang cukup dekat dari pusat kota. hanya sekitar 15 menit perjalanan mobil, kita telah sampai di kaki gunung.
gunung gawalise tak hanya sebagai tempat pendakian tapi juga sebagai tempat observasi para ilmuwan yang ingin meneliti berbagai jenis flora dan fauna di gunung ini. tak hanya itu gunung ini juga menawarkan panorama kota palu dari ketinggian.
Perjalanan di mulai dari pelabuhan pantoloan kemudian naik mobil ke kelurahan silae (palu barat) dan turun di rumah makan “simpang lima” dari sini anda harus menyusuri jalan aspal sekitar 500 m untuk sampai ke desa Dombu (kaki gunung Gawalise). desa Dombu di diami oleh suku da’a sub etnis suku kaili. warga desa dombu juga masih sangat primitif dan sangat menjaga adat istiadat mereka.
Kaki Gunung – POS 1 :

jalur dari kaki gunung ke pos 1 bisa di bilang cukup menantang, karena banyak nya tanjakan terjal hingga sampai kemiringan + 80′ dan ilalang – ilalang yang tingginya melewati kepala kita juga sawah – sawah warga yang kadang harus di rusak tanamannya untuk bisa di lewati. lama perjalanan ke pos 1 di tempuh dalam 5-6 jam dan berada di ketinggian + 1000 mdpl. perlu di ketahui bahwa ketersediaan air di pos 1 sangat sedikit saran saya jika ingin mendaki gunung ini bawalah air yang jumlahnya lebih. karena sumber air hanya ada di pos 1. daerah datar di pos 1 juga terbatas sehingga kita harus bangun tenda di kemiringan.
KET POS 1 :
Ketinggian : + 1000 mdpl
Suhu : 35 sampai 33 derajat celcius
Air : Pancuran Mata Air (sangat sedikit)
POS 1 – POS 2 :
Setelah melalui perjalanan panjang ke pos 1 kita dapat melanjutkan kembali ke pos 2 yang dimana jalurnya hampir sama dengan jalur pos 1. yaitu banyaknya tanjakan terjal dan ilalang – ilalang yang menutupi kepala. dan bahkan parahnya kita harus memanjat susunan batu – batu alami untuk sampai ke pos 2. dari sini (pos 2) kita dapat menyaksikan keindahan kota Palu yang di kelilingi gunung dan di belah oleh sungai di tengah – tengahnya, sungguh menawan. di pos 2 juga kita dapat menemui tanaman bunga abadi “edeilweys” jika anda ingin memetiknya jangan sampai ketahuan pendaki lain okee.. he he he…
KET POS 2 :
Ketinggian : + 1500 mdpl
Suhu : 34 sampai 33 derajat celcius
Air : tidak ada
POS 2 – POS 3 :
Setelah istirahat sejenak perjalanan di lanjutkan ke pos 3. beda halnya dengan pos 1 & pos 2, Pos 3 ini memiliki keistimewahan karena di jalur ini terdapat bangkai pesawat Merpati Fokker yang menabrak di gunung ini sekitar tahun 1994 juga jalurnya yang agak bersahabat dengan kita di mana banyak jalan rata di banding tanjakan. tapi keadaan pos 3 sangat sempit untuk bangun tenda sehingga kebanyakan para pendaki hanya beristirahat sebentar dan lanjut lagi perjalanan ke Puncak.
KET POS 3 :
Ketinggian : + 1800 mdpl
Suhu : 35′ (siang) 20′ (malam)
Air : tidak ada
POS 3 – PUNCAK :
Perjalanan dari Pos 3 ke Puncak dapat di tempuh dalam 1-1,5 jam jalurnya melewati punggung – punggung bukit dan menerobos hutan tropis lebat. keadaan di puncak cukup dingin dan selalu di selimuti oleh kabut sehingga membatasi jarak pandang. Dan juga kurangnya StringLine (penunjuk arah). di puncak kita akan mendapati tugu yang menandakan titik tertinggi gunung gawalise dan terdapat sebuah tempat penampungan air hujan untuk para pendaki yang kehausan. saran saya sebelum minum air hujan itu saring terlebih dahulu karena banyak jentik – jentik nyamuk di dalamnya..ckckck benar – benar Survive.
KET PUNCAK :
Ketinggian : 2023 mdpl
Suhu : 33 sampai 28 derajat celcius
Air : penampungan hujan (sangat sedikit)
PUNCAK – KAKI GUNUNG :
dapat di tempuh dalam waktu 5 jam. kemudian berjalan lagi 500 m ke pinggir jalan raya untuk menumpang mobil.
NB :
  • Gawalise merupakan satu – satunya gunung di sulawesi tengah yang berada di pinggir kota. jadi akses kendaraan sangat mudah.
  • warga yang mendiami sekiar gunung sangat primitif sehingga saran saya jika kebutuhan logistik kita melebihi cukup tak ada salahnya kalau kita memberi sedikit makanan buat mereka separti beras, mie instan, dan kopi / rokok.
Itulah Info Yang dapat kami berikan, Selaman Melakukan Pendakian


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Gunung Katopasa 2865 mdpl

Gunung katopasa merupakan jalur pegunungan (verbek) dengan memiliki puncak yang tertinggi di antara puncak-puncak di sekitarnya, berada di wilayah kabupaten Tojo Una-Una Sulawesi Tengah, dengan jarak sekitar 350 km dari Kota Palu. Di kelilingi oleh beberapa desa, sungai dan pegunungan yaitu utara berbatasan dengan desa Podi, selatan dengan desa Mire, timur dengan sungai Ulu Bongka dan bagian barat dengan Cagar alam Morowali dan hanya berjarak sekitar 30 km dari Cagar Alam Tanjung Api Ampana.
Puncak gunung katopasa berada pada ketinggian 2865 mdpl (meter dari permukaan laut) yang merupakan puncak tertinggi di sulawesi tengah, dengan medan bervariasi (dari dataran sampai scrambling) dan flora fauna yang beraneka ragam. Hal ini di pengaruhi oleh kontur-kontur yang sangat rapat, tekstur tanah dan termasuk hutan hujan tropis sehingga sangat memungkinkan tumbuh-tumbuhan dan hewan untuk hidup dan berkembang biak serta merupakan surga dan tempat favorit bagi para penggiat alam bebas (pendaki gunung) di Indonesia karena jalur pendakiannya yang eksotik dan ekstrim tersebut.
Penduduk yang berada di sekitar pegunungan katopasa sampai saat ini masih sangat tergantung pada hutan yang merupakan kekayaan alam yang wajib di jaga dan lestarikan, dengan beberapa jenis flora dan fauna yang masih sering di temukan, antara lain :
  • Flora : Rotan, pohon Damar, pohon Gaharu, dan pohon-pohon jenis lainnya.
  • Fauna : Kijang, babi, sampai jenis hewan endemik dan di lindungi yaitu Anoa.
dan semua kekayaan alam tersebut, di kelola dengan cara yang masih sangat tradisional, penduduk menggunakan dan memanfaatkan hasil hutan secukupnya dengan berbasis pada kearifan budaya local dan system hutan kerakyatan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, penduduk lokal masih mengandalkan kebun dan ladang (jagung, palawija, sayur mayur, ubi, karet dan jati super) serta mengambil beberapa tumbuhan di sekitar hutan untuk keperluan obat-obatan tradisional dan keperluan lainnya (perumahan, bahan makanan, getah damar dan lain-lain).
Untuk melakukan aktivitas pendakian ke puncak katopasa, para penggiat alam bebas (pendaki gunung) dapat memulai titik star melalui desa Mire, yang merupakan satu-satunya gerbang pendakian semenjak di rintis (buka jalur) dalam team ekspedisi mahasiswa Pecinta Alam Lalimpala FKIP univ. Tadulako, Palu Sulawesi Tengah pada tahun 1996. Dan pendakian membutuhkan waktu antara 4 – 6 hari, dengan jalur bervariasi serta mata air pegunungan yang slalu ada di saat haus dan lapar, Dengan panorama alam yang sangat indah, aneka flora fauna pegunungan sehingga sangat menarik bagi penelitian dan fotografer lingkungan, dan Gunung Katopasa sangat cocok menjadi salah satu pilihan bagi penggiat alam bebas dan tujuan wisata di negeri ini.


  • Gunung Katopasa yang berada di wilayah kabupaten Tojo Una-Una Sulawesi Tengah, dengan jarak sekitar 350 km dari Kota Palu. Di kelilingi oleh beberapa desa, sungai dan pegunungan yaitu sebelah utara berbatasan dengan desa Podi, selatan dengan desa Mire, timur dengan sungai Ulu Bongka dan bagian barat dengan Cagar alam Morowali dan hanya berjarak sekitar 30 km dari Cagar Alam Tanjung Api.
  • Jenis Hutan Gunung Katopasa adalah Hutan Hujan Tropis dan masih dapat dijumpai tumbuh-tumbuhan dan satwa endemic Sulawesi.
  • Jalur pendakian Katopasa di mulai dari desa mire kecamatan Ulubongka kabupaten Tojo Una-una dengan koordinat 121° 27’ 10” BT dan 01° 07’ 20” jalur pendakian ini di rintis oleh MAPALA LALIMPALA FKIP UNTAD pada tahun 1996.
  • Desa mire merupakan titik start menuju puncak Katopasa, dengan jumlah penduduk hingga Februari 2010 mencapai 214 kk yang merupakan mayoritas suku Taa dan seluruh penduduknya memeluk agama Islam.
  • 90% penduduk desa mire bertani, namun terkadang ada beberapa yang menjerat anoa, mengambil dammar serta rotan.
  • Memiliki luas wilayah 19.614 Ha, dan difasilitasi sebuah mesjid, sebuah sekolah dasar, sebuah polindes, dan aliran listrik yang bergiliran, hanya pukup 6 sore sampai 12 malam.
  • Jarak dari kota ampana ± 54 km dan berada pada ketinggian 400 meter dari permukaan laut.
  • Desa ini disebelah utara berbatasan dengan Watusongu, sebelah selatan berbatasan dengan katopasa, sebelah timur berbatasan dengan desa bone bae 1 (yapi), dan sebelah barat berbatasan dengan wilayah kecamatan Tojo timur yakni desa Podi.

TITIK KOORDINAT DAN KONDISI MEDIA
JALUR PENDAKIAN KATOPASA
Pos Titik Koordinat Kondisi Medan Flora & Fauna
  I
  01° 08´ 53´´ LS
121° 26´ 48´´ BT
720 mdpl
- melewati ilalang dan perkebunan penduduk  - ada aliran air sungai yang kecil
- pos ini dapat menampung 7-8 tenda
- untuk menuju pos ini memakan waktu ± 1,5 jam
Pepohonan besar, agas, ilalang, pohon enau, serta aneka macam tanaman perkebunan penduduk.
  II
  01° 09´ 27´´ LS
121° 26´ 47´´ BT
810 mdpl
- ada air pancuran kecil  - melewati tanjakan yang cukup panjang
- dapat menampung 5-6 tenda
- untuk menuju pos ini dibutuhkan waktu ± 10 menit
- ada pondok penduduk yang mengambil rotan
Terdapat ilalang, bambu, dan pohon mangga.
  III
  01° 10´ 10´´ LS
121° 26´ 48´´ BT
1320 mdpl
- dibutuhkan waktu ± 2 jam  - melewati beberapa tanjakan
- ada bivak penduduk yang mengambil rotan
- dapat menampung 5 – 6 tenda
Banyak rotan, lintah, bambu, serta pepohonan tinggi.
  IV
  01° 10´ 41´´ LS
121° 26´ 22´´ BT
1420 mdpl
- ada pondok yang sudah lapuk  - dapat menampung 9-10 tenda
- terdapat air sungai yang mengalir jernih
- udara terasa dingin dan pepohonan mulai diselimuti lumut
- dibutuhkan waktu ± 1 jam untuk mencapai pos ini
Banyak lintah, lumut dan rotan
  V
  01° 11´ 28´´ LS
121° 26´ 08´´ BT
1620 mdpl
- dapat menampung 1 tenda saja  - dibutuhkan waktu ± 2 jam untuk mencapai pos ini
- pos ini sangat jauh dari aliran sungai
- banyak pepohonan tumbang dan medan yang agak landai
Terdapat pohon pinang, pepohonan tinggi beserta lumut, kutu babi, lintah, serta agas.
VI  01° 11´ 42´´ LS  121° 26´ 07´´ BT
1700 mdpl
- tidak jauh dari aliran sungai yang jernih  - dapat menampung 5-6 buah tenda
- dibutuhkan waktu ± 20 menit untuk mencapai pos ini
Anggrek, lintah, kutu babi, agas, damar, rotan, serta pepohonan yang diselimuti lumut 
VII  01° 12´ 0´´ LS  121° 26´ 07´´ BT
2180l
- Melewati tanjakan yang terjal dan diselimuti lumut serta udara yang sangat dingin  - hanya dapat menampung 1 tenda saja/tak ada air
- dibutuhkan waktu ± 2 jam untuk mencapai pos ini
Pohon pandan hutan, lintah, lumut, serta kantung semar
  VIII
  01° 12´ 15´´ LS
121° 26´ 09´´ BT
2600 mdpl
- Melewati tanjakan yang diselimuti lumut dan pepohonan tumbang  - terdapat air sungai yang mengalir jernih
- dapat menampung 4-5 tenda
- dibutuhkan waktu ± 2 jam untuk mencapai pos ini
Terdapat anoa dan beberapa jenis burung
  IX
  01° 12´ 47´´ LS
121° 26´ 01´´ BT
2740 mdpl
- Puncak lalimpala ini dapat menampung  8-9 tenda
- tidak terdapat pos air
- ditumbuhi pepohonan kecil dan melewati istana lumut
- dibutuhkan waktu ± setengah jam untuk menuju pos ini
Beragam jenis Burung serta anoa
  X
  01° 13´ 27´´ LS
121° 26´ 02´´BT
2740 mdpl
- puncak tjatjo taha ini dapat menampung 6-7 tenda  - tidak terdapat air
- melewati istana lumut dan udara yang sangat dingin
- dibutuhkan waktu ± 1,5 jam untuk mencapai pos ini
Anoa dan kantung semar
  XI
  01° 14´ 00´´ LS
121° 25´ 57´´ BT
2700 mdpl
- dapat menampung 2-3 tenda  - tidak terdapat air
- masih melewati istana lumut yang sangat dingin
- dibutuhkan waktu ± 1,5 jam untuk mencapai pos ini
Anoa dan kantung semar
  XII
  01° 14´ 25´´ LS
121° 25´ 33´´ BT
3000 mdpl
- tidak terdapat air  - dapat menampung 7- 8 tenda
- melalui medan yang masih berlumut berbahaya dan berbatu
- dibutuhkan waktu ± 1,5 jam untuk mencapai puncak.
Masih di temui Anoa

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS